DEPUTI GUBERNUR SENIOR BI JELASKAN PEMICU PELEMAHAN RUPIAH DAN STRATEGI JAGA STABILITAS

  • Info Pasar & Berita
  • 05 Jun 2026

15531074

IQPlus, (5/6) - Bank Indonesia (BI) menyatakan terus berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global dan tingginya kebutuhan domestik. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa pelemahan mata uang garuda saat ini masih dipengaruhi oleh eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang menghambat prospek perdamaian global.

Kondisi geopolitik tersebut memicu harga minyak dunia tetap tinggi, yang berisiko menaikkan inflasi global serta mendorong aliran modal keluar (outflow) dari negara-negara berkembang (emerging markets). Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh faktor musiman domestik, yakni tingginya kebutuhan korporasi untuk repatriasi dividen dan pembayaran Utang Luar Negeri (ULN).

Meski demikian, Destry menegaskan bahwa pelemahan rupiah secara umum masih sejalan dengan pergerakan mata uang di kawasan regional. Secara Year-to-Date (YTD), nilai tukar rupiah tercatat melemah sebesar 7,44%. Ketahanan eksternal ekonomi Indonesia pun dinilai masih kuat, tercermin dari posisi cadangan devisa yang tetap terjaga di level USD 146,2 miliar pada akhir April 2026.

Untuk memitigasi risiko tersebut, Bank Indonesia meningkatkan intensitas intervensi guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan nilai tukar bergerak sesuai fundamentalnya. Langkah intervensi berkesinambungan ini dilakukan secara konsisten melalui tiga jalur, yaitu transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. BI juga aktif melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain melakukan intervensi langsung, BI memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market untuk tetap memikat aliran modal asing masuk ke aset domestik. Koordinasi dan komunikasi intensif dengan korporasi serta pelaku pasar lainnya juga terus berjalan.

Sebagai strategi jangka panjang mengurangi ketergantungan pada dolar AS, Bank Indonesia terus mendorong penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT) dalam kerja sama bilateral. Hingga saat ini, kerja sama LCT telah terjalin dengan enam negara mitra strategis, yaitu Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Langkah diversifikasi transaksi perdagangan ini menunjukkan hasil positif. Departemen Komunikasi BI mencatat nilai transaksi perdagangan melalui skema LCT per April 2026 telah melonjak tajam mencapai sekitar USD 22,7 miliar. Angka tersebut hampir menyamai pencapaian keseluruhan tahun (full year) lalu yang berada di kisaran USD 25,7 miliar. (end)

Kembali ke Blog