28130857
IQPlus, (9/10) - Harga emas stabil setelah sempat naik moderat pada hari sebelumnya, seiring para pedagang mencermati ketegangan di Timur Tengah menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan umum sela bulan November.
Harga emas diperdagangkan di kisaran US$4.145 per ons, pulih dari level terendah dalam dua bulan yang sempat tercatat awal pekan ini, setelah Trump menyatakan bahwa AS sedang melakukan "diskusi produktif" dengan Iran, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Harga minyak acuan mengalami penurunan, meskipun risiko tetap tinggi akibat ancaman badai terhadap aktivitas produksi di Teluk Meksiko.
Komentar Trump muncul di tengah langkah Iran yang meningkatkan intensitas serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz pekan ini, sehingga memicu kekhawatiran baru terkait konflik yang kini telah memasuki bulan kedelapan tersebut.
Hal ini kembali memicu kekhawatiran inflasi akibat kenaikan biaya energi, yang mendorong sejumlah bank sentral untuk memperketat kebijakan moneter serta memberikan tekanan pada logam mulia yang tidak menghasilkan imbal hasil.
Para pelaku pasar memperkirakan biaya pinjaman AS akan tetap tidak berubah pada akhir Oktober, namun akan meningkat dalam jangka menengah.
Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem, pada hari Kamis (8 Oktober) mengisyaratkan bahwa suku bunga perlu dinaikkan dalam enam hingga sembilan bulan ke depan guna membantu mengembalikan inflasi ke target 2 persen yang ditetapkan bank sentral AS, namun ia tidak secara eksplisit mendukung langkah tersebut pada pertemuan kebijakan bulan ini.
Harga emas naik 0,3 persen menjadi US$4.144,05 per ons pada pukul 08.00 pagi waktu Singapura, sementara harga perak naik 0,6 persen menjadi US$59,54 per ons setelah sempat turun 1 persen pada sesi sebelumnya. Harga platinum dan paladium juga mengalami kenaikan tipis. Bloomberg Dollar Spot Index, yang merupakan tolok ukur mata uang AS, tercatat tidak banyak berubah. (end/Bloomberg)