22941766
IQPlus, (18/8) - Sebuah kapal kargo terkena proyektil saat melintasi Selat Hormuz, demikian pernyataan badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) pada hari Selasa. Insiden ini menandakan masih adanya risiko navigasi di jalur perairan tersebut di tengah sikap Washington dan Teheran yang semakin keras.
Serangan itu menyebabkan kerusakan pada ruang mesin dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di antara awak kapal, ungkap badan maritim tersebut, seraya menambahkan bahwa awak kapal lainnya sedang dibantu oleh Penjaga Pantai Oman.
Insiden ini terjadi setelah seorang pejabat militer Iran kembali melontarkan ancaman bahwa negara tersebut tidak akan mundur terkait masalah Selat Hormuz. Fox News melaporkan pada hari Selasa bahwa juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, mengatakan kapal-kapal yang mencoba melintasi selat itu akan "mendapati beberapa lubang indah pada lambung kapal mereka."
Washington dan Teheran telah menolak pembicaraan lebih lanjut setelah kesepakatan gencatan senjata negosiasi selama 60 hari yang dicapai pada pertengahan Juni guna membuka ruang bagi upaya diplomatik berakhir pada hari Senin tanpa adanya kesepakatan lanjutan yang resmi.
"Kedua belah pihak akan bertahan pada posisi masing-masing dalam kebuntuan yang berkepanjangan," demikian pernyataan tim analis Eurasia Group dalam sebuah catatan pada hari Senin, mengingat tidak ada pihak yang merasa perlu segera memberikan konsesi.
Sebelumnya pada hari Senin, Presiden AS Donald Trump menutup kemungkinan perpanjangan gencatan senjata, dengan mengatakan bahwa Teheran tidak akan menerima syarat-syarat yang ia anggap perlu untuk mengakhiri konflik mereka. "Mereka tidak akan membuat kesepakatan seperti yang saya rasa perlu," ujar Trump di Ruang Oval.
Di sisi lain, kepemimpinan garis keras Iran tidak berniat meredakan konflik, melainkan justru ingin memperluas cakupan perang guna meningkatkan biaya yang harus ditanggung AS dan sekutu regionalnya. Demikian dilaporkan Wall Street Journal pada hari Minggu, mengutip informasi intelijen yang diperoleh dari pejabat Iran dan Arab yang tidak disebutkan namanya.
Eurasia Group tidak lagi memperkirakan adanya kesepakatan damai pada bulan September dan menggeser perkiraan waktu de-eskalasi ke akhir tahun seiring berlanjutnya kebuntuan tersebut. Hasil yang paling mungkin terjadi adalah "kesepakatan terbatas" yang memungkinkan lalu lintas di Selat Hormuz pulih sebagian, ungkap perusahaan konsultan risiko tersebut, seraya menambahkan bahwa tekanan terhadap Washington untuk segera mendorong pembukaan kembali selat itu telah berkurang.
Keberhasilan dalam mengalihkan jalur pengiriman minyak agar tidak melewati Selat Hormuz telah mencegah lonjakan harga hingga melampaui angka $100 per barel, sementara ekonomi global telah beradaptasi dengan penutupan tersebut, sehingga memberikan ruang bagi AS untuk "bisa menunggu," menurut Eurasia Group. (end/CNBC)