22330741
IQPlus, (12/8) - PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) meraih penghargaan sebagai Pelopor Industri Herbal Berkelanjutan dan Kemitraan Lokal dalam ajang Jogja Brand and Business Awards 2026. Apresiasi tersebut diserahkan di Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, Rabu (15/7/2026).
Direktur Utama Sido Muncul, Irwan Hidayat, menyambut positif penghargaan ini sebagai dorongan untuk terus memperkuat strategi bisnis berkelanjutan yang telah dirintis perusahaan sejak puluhan tahun lalu.
Irwan mengungkapkan bahwa kemitraan bersama para petani lokal bukanlah langkah baru, melainkan strategi jangka panjang yang dibangun Sido Muncul sejak tahun 1998. Program ini berawal dari kerja sama dengan Koperasi Balai Penelitian Tanaman Obat Tawangmangu- yang kini dikenal sebagai Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional.
Melalui program pembinaan tersebut, perusahaan memfokuskan pendampingan ribuan petani yang tersebar di wilayah Semarang, Purwokerto, Wonosobo, serta sebagian kecil di Daerah Istimewa Yogyakarta. Langkah ini diambil guna mengatasi tantangan keterbatasan pasokan bahan baku herbal yang terstandar akibat ketergantungan pada pengepul dan penyusutan lahan hutan.
"Di tahun itu kami mulai punya ide untuk membudidayakan, yang tujuannya supaya dapat standardisasi. Sebab ditanam oleh petani yang sama, di tempat yang sama, dengan cara yang sama, dan bibit yang kami tentukan. Ini juga untuk kepastian suplai bahan," ujar Irwan.
Skema kemitraan ini terbukti memberikan dampak signifikan. Dari total kebutuhan pabrik sekitar 50 ton bahan baku per hari, sebanyak 60 persen atau sekitar 30 ton diserap langsung dari hasil panen petani mitra. Bertindak sebagai pembeli siaga (offtaker), Sido Muncul memberikan kepastian pasar sekaligus mendorong kesejahteraan ekonomi para petani.
Selain pemberdayaan petani, Sido Muncul mengintegrasikan prinsip bisnis hijau di area operasional pabrik lewat konsep zero waste. Perusahaan memanfaatkan ampas sisa pengolahan jamu sebagai bahan bakar steam boiler, serta mengombinasikannya dengan wood pellet, compressed natural gas (CNG), panel surya, dan listrik nonsubsidi untuk efisiensi energi bersih.
Tak hanya pada rantai pasok dan produksi, kearifan lokal ini juga dihilirisasi menjadi kawasan edukasi wellness tourism di lokasi pabrik Ungaran, Jawa Tengah, yang dirintis sejak 2003. Fasilitas tersebut mencatatkan hingga 400 kunjungan per hari atau sekitar 100.000 pengunjung gratis setiap tahunnya dari berbagai daerah sebelum sempat terhenti akibat pandemi Covid-19.
Irwan berharap, pemerintah dapat terus mendukung dan mendorong pengembangan wisata kesehatan berbasis kearifan lokal tersebut sebagai salah satu keunggulan Jawa Tengah di masa depan. (end)