22236714
IQPlus, (11/8) - Pada hari Selasa (11 Agustus), Malaysia memperbarui rencana aksi 10 tahun untuk meningkatkan efisiensi energi (NEEAP), dengan target penghematan sekitar US$21,5 miliar.
Rencana Aksi Efisiensi Energi Nasional yang telah diperbarui ini akan berlangsung hingga tahun 2035 dan bertujuan mengurangi permintaan energi sebesar 11,6 persen, menurut pernyataan dari kementerian transisi energi dan transformasi air.
Langkah ini akan menghasilkan penghematan energi kumulatif sebesar 815.382 terajoule dibandingkan dengan proyeksi skenario bisnis seperti biasa (*business-as-usual*), yang setara dengan pengurangan emisi setara CO2 sebesar 26,1 juta metrik ton, demikian bunyi pernyataan tersebut.
NEEAP pertama, yang berlangsung antara tahun 2016 dan 2025, berhasil menghemat listrik sebesar 60.886 gigawatt-jam atau senilai sekitar RM16,1 miliar (US$3,9 miliar) melampaui target awal sebesar 52.233 gigawatt-jam ujar Menteri Ekonomi Akmal Nasir saat peluncuran rencana tersebut.
Capaian ini setara dengan perkiraan pengurangan emisi sebesar 35,6 juta ton setara CO2, ungkapnya.
Malaysia terus mendorong perusahaan dan investor untuk memprioritaskan keberlanjutan energi, mengingat permintaan listrik diperkirakan akan meningkat secara signifikan seiring dengan pesatnya pertumbuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Negara ini merupakan pusat data dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara, yang menarik investasi bernilai miliaran dolar dari perusahaan-perusahaan teknologi global terkemuka, termasuk Amazon dan Microsoft.
Pada tahun 2023, Malaysia mengesahkan undang-undang yang mewajibkan konsumen energi terbesar untuk menerapkan langkah-langkah penghematan energi, sebagai bagian dari komitmennya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 45 persen di seluruh sektor ekonomi pada tahun 2030 serta mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050. (end/Reuters)