MANULIFE NILAI SAHAM ASIA MASIH MENARIK PADA SEMESTER II 2026

  • Info Pasar & Berita
  • 17 Jul 2026

19752645

IQPlus, (17/7) - Manulife Investment Management menilai prospek saham Asia masih menarik pada semester II 2026.

Optimisme itu didukung oleh prospek pertumbuhan laba perusahaan yang membaik, kondisi keuangan yang lebih longgar, serta beragam faktor pendorong pertumbuhan di masing-masing kawasan.

Head of Asia Equities Manulife Investment Management June Chua mengatakan, di China pihaknya melihat prospek pertumbuhan laba yang lebih berkelanjutan dalam 12 hingga 18 bulan ke depan setelah melewati periode pelemahan sebelumnya.

"Seiring pemulihan ekonomi yang semakin meluas dan stabilisasi siklus industri, kami tetap melihat peluang di berbagai area seperti AI, semikonduktor, manufaktur canggih, dan peralatan kelistrikan. Bersama dengan dukungan kebijakan dan valuasi yang masih menarik, hal ini menunjukkan latar belakang yang lebih konstruktif bagi saham Tiongkok dalam jangka menengah," kata June dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Selain China, Taiwan dan Korea Selatan juga dinilai masih memperoleh manfaat dari momentum kuat di ekosistem kecerdasan artifisial (AI).

Rantai pasok yang kuat dan tangguh, serta peningkatan teknologi yang terus berlangsung dinilai mampu mendorong pertumbuhan laba sektor semikonduktor dan industri terkait.

Di kawasan ASEAN, Chua memandang tantangan jangka pendek masih ada. Namun, upaya kebijakan yang terkoordinasi dan penguatan permintaan domestik diperkirakan dapat mendukung pemulihan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

"Dalam kondisi ini, saham Asia menawarkan sumber pertumbuhan dan diversifikasi yang berbeda. Namun, perbedaan kinerja antar pasar dan sektor masih tinggi, sehingga semakin menegaskan pentingnya pengelolaan investasi aktif serta pendekatan yang disiplin dan selektif dalam menangkap peluang di kawasan ini," ujarnya.

Sementara itu, Head of Asia Fixed Income Manulife Investment Management Murray Collis memprediksi obligasi Asia tetap berada pada posisi yang baik pada semester II 2026 seiring investor mencari sumber pendapatan dan diversifikasi.

Menurut dia, obligasi Asia menawarkan kombinasi imbal hasil yang lebih tinggi dan durasi yang lebih pendek dibandingkan instrumen global sejenis.

"Hal ini memberikan bantalan pendapatan yang lebih resilien terhadap volatilitas suku bunga. Kami melihat peluang pada obligasi berdenominasi dolar AS di Asia dan pasar obligasi mata uang lokal tertentu, di mana dukungan kebijakan dan fundamental yang solid dapat membantu menopang imbal hasil," katanya. (end)

Kembali ke Blog