30724493
IQPlus, (4/11) - Chief Economist & Head OCBC Group Research, Selena Ling, menyatakan bahwa pihaknya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada tahun 2026.
"Sebagian besar dukungan (pertumbuhan ekonomi pada tahun ini) berasal dari sisi permintaan domestik," ucapnya dalam OCBC Outlook - ASEAN Opportunity: Business Growth & Wealth Expansion di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, ketahanan ekonomi Indonesia yang ditopang kuatnya permintaan domestik memberikan landasan bagi prospek jangka menengah yang positif dengan proyeksi di kisaran 5 persen.
Investasi dan konsumsi rumah tangga disebut menjadi pilar utama perekonomian, yang tercermin antara lain dari pertumbuhan investasi sebesar 6,9 persen year on year (yoy) pada kuartal II-2026.
Momentum itu diperkuat alokasi belanja infrastruktur, investasi sektor swasta, hingga dukungan fiskal, serta kondisi pasar tenaga kerja yang stabil dengan tingkat pengangguran berada di level 4,65 persen pada Mei 2026.
Kendati demikian, kekuatan ekonomi domestik dihadapkan pada adanya peningkatan risiko eksternal, seperti volatilitas harga energi global akibat konflik geopolitik di Asia Barat/Timur Tengah dan pengetatan kebijakan moneter di berbagai bank sentral yang berpengaruh di dunia.
Ketegangan geopolitik yang berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS)-Iran atau Rusia-Ukraina, dinilai berpotensi membuat biaya energi, transportasi, dan logistik tetap tinggi, yang pada gilirannya memperkuat tekanan inflasi dari barang impor.
Di saat yang sama, ketidakpastian perdagangan global yang diperberat penerapan tarif impor oleh AS dan potensi tarif dagang susulan, terus membayangi pasar internasional.
Kemudian, tantangan lainnya berasal dari potensi bank sentral AS/Federal Reserve (The Fed) mempertahankan sikap yang relatif ketat (hawkish) seiring konsensus pasar mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Desember 2026.
"Menurut kami, seiring dengan stabilnya harga energi, ada kemungkinan Amerika Serikat akan memasuki masa jeda yang berkepanjangan setelah kenaikan suku bunga di bulan Desember. Namun, mereka akan tetap sangat waspada terhadap tekanan inflasi," ungkap Selena Ling. (end/ant)