27726608
IQPlus, (5/10) - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) memanfaatkan inovasi pupuk Geothermal Organic Fertilizer (GeO-Fert) untuk membantu petani di Kamojang, Kabupaten Bandung, menghasilkan sekitar 70 ton kubis varietas Granova dari lahan seluas 1,2 hektare.
Panen Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, tersebut menghasilkan nilai penjualan sekitar Rp78 juta, sementara penggunaan GeO-Fert membantu menghemat biaya pembelian pupuk sekitar Rp20 juta.
"Panas bumi juga hadir untuk membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi produk yang bisa kembali dipakai untuk bertani," kata Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Sabtu.
Panen tersebut merupakan bagian dari kegiatan HAREPAN atau Panen Hasil Bumi dari Aplikasi Pupuk GeO-Fert yang dilaksanakan PGE Area Kamojang bersama masyarakat sepanjang September 2026.
GeO-Fert merupakan pupuk organik yang proses produksinya memanfaatkan ekses uap Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang bersuhu sekitar 60-70 derajat Celsius.
Pemanfaatan panas tersebut mempercepat pengeringan pupuk organik dari sebelumnya membutuhkan waktu hingga sekitar 14 hari menjadi sekitar 12 jam.
Dalam budidaya kubis tersebut, sekitar 30 ton GeO-Fert diaplikasikan pada lahan seluas 1,2 hektare.
Pupuk organik padat diberikan sebelum penanaman, sedangkan pupuk cair digunakan secara berkala setiap 15 hari selama masa budidaya.
Beberapa kubis yang dipanen mencapai bobot sekitar 6 kilogram (kg) per buah, dibandingkan rata-rata kubis lokal sekitar 3 kg.
Menurut Ketua KTH Cikondang Kamojang Asep Muhamad Deni, masyarakat tidak hanya menggunakan pupuk tersebut, tetapi juga terlibat dalam proses produksi dengan memanfaatkan limbah organik yang sebelumnya belum termanfaatkan.
Pengembangan GeO-Fert juga telah diterapkan pada komoditas lain seperti kopi, kentang, cabai, tomat, dan labu siam.
Pada April 2026, penerapan GeO-Fert pada budidaya kentang di lahan sekitar 4.200 meter persegi menghasilkan 7.581 kg kentang, dibandingkan sekitar 4.525 kg menggunakan metode konvensional.
Biaya produksi kentang juga turun dari sekitar Rp73,1 juta menjadi Rp49,5 juta per tahun, atau berkurang sekitar Rp23,5 juta per tahun.
General Manager PGE Area Kamojang Albertus Novi Purwono mengatakan pemanfaatan panas bumi tersebut dikembangkan untuk menghubungkan energi bersih dengan pengelolaan limbah, pertanian, serta kegiatan ekonomi masyarakat sekitar. (end)