Dalam investasi saham, banyak investor yang menjadikan harga saham masa lalu sebagai patokan untuk membeli saham hari ini, karena hal tersebut adalah hal yang paling mudah untuk diingat. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi cara kita dalam mengambil keputusan investasi.
Sobat Genvest, pernahkah merasa sebuah saham dirasa masih murah harganya hanya karena harga saat ini lebih rendah dibandingkan harga sebelumnya? Jika pernah, bisa jadi Sobat Genvest mengalami apa yang disebut dengan Anchoring Bias.
Anchoring Bias adalah kecenderungan seseorang untuk terlalu bergantung pada informasi atau angka pertama yang diterima ketika membuat keputusan. Dalam investasi saham, angka tersebut bisa saja berupa harga saham di masa lalu, harga beli, target harga, atau informasi tertentu yang pertama kali kita ketahui. Angka tersebut kemudian menjadi patokan yang memengaruhi cara kita menilai kondisi saham saat ini.
Sebagai contoh, sebuah saham pernah berada di harga Rp6.000 dan kini diperdagangkan di Rp4,000 per lembar sahamnya. Sobat Genvest mungkin merasa saham tersebut sedang ‘diskon’ karena harganya sudah turun Rp2,000 dari level sebelumnya. Padahal, penurunan harga tersebut belum tentu mengartikan saham tersebut berharga murah. Bisa saja terdapat perubahan pada kinerja perusahaan, kondisi industri, atau faktor lain yang memengaruhi prospeknya.
Hal yang sama juga dapat terjadi ketika kita berpatokan pada harga beli. Misalnya, Sobat Genvest membeli saham di harga Rp4.000, kemudian harganya turun menjadi Rp3,000. Keinginan untuk menunggu hingga harga kembali ke Rp4.000 dapat muncul karena angka tersebut sudah menjadi patokan dalam pikiran. Padahal, kondisi perusahaan maupun prospeknya bisa saja sudah berubah.
Dalam investasi, harga masa lalu sering kali terasa mudah digunakan sebagai pembanding. Namun, harga saham pada masa lalu tidak secara otomatis menunjukkan nilai wajar saham saat ini maupun menjamin bahwa harga tersebut akan kembali. Karena itu, penting bagi Sobat Genvest untuk membedakan antara harga historis dan informasi yang mencerminkan kondisi perusahaan saat ini.
Salah satu cara untuk menghindari Anchoring Bias adalah dengan tidak menjadikan satu angka sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan. Sebelum membeli atau menjual saham, Sobat Genvest dapat kembali melihat informasi yang lebih relevan, seperti kinerja keuangan, kondisi bisnis, prospek perusahaan, serta faktor lain yang dapat memengaruhi pergerakan saham. Dengan begitu, keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada pertanyaan, ‘Dulu harganya berapa?’, tetapi juga ‘Bagaimana kondisi dan prospek perusahaan saat ini?’
Harga masa lalu memang dapat menjadi informasi yang menarik untuk dilihat, tetapi jangan sampai angka tersebut menjadi satu-satunya patokan dalam mengambil keputusan investasi. Dengan mengenali Anchoring Bias, Sobat Genvest dapat lebih menyadari bagaimana suatu angka dapat memengaruhi cara menilai sebuah saham. Dengan begitu, keputusan investasi dapat dibuat berdasarkan informasi yang lebih relevan dengan kondisi saat ini.
Memahami investasi membutuhkan proses belajar yang berkelanjutan. Karena itu, Sobat Genvest dapat mengikuti berbagai pembahasan seputar pasar modal melalui program #PastiPahamInvestasi dari CGS International Sekuritas Indonesia. Informasi mengenai kelas dan jadwal terbaru dapat Sobat Genvest temukan melalui website dan media sosial resmi CGS International Sekuritas Indonesia. Mari terus menambah wawasan agar semakin memahami berbagai aspek dalam berinvestasi