SIDO MUNCUL OPTIMISTIS TUMBUH DI TENGAH GEJOLAK GLOBAL, PERKUAT HERBAL NASIONAL

  • Info Pasar & Berita
  • 18 Mei 2026

13727250

IQPlus, (18/5) - PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) optimistis mampu menjaga pertumbuhan kinerja sepanjang 2026 meski menghadapi tantangan geopolitik global yang berdampak pada kenaikan harga bahan kemasan dan tekanan ekonomi eksternal.

Direktur Utama Sido Muncul Dr. (H.C.) Irwan Hidayat mengatakan perseroan tetap waspada terhadap dinamika global, namun struktur bisnis perusahaan dinilai cukup tangguh karena sekitar 90 persen bahan baku berasal dari dalam negeri. Kondisi tersebut membuat dampak fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah relatif terbatas.

Menurut Irwan, strategi jangka panjang perusahaan difokuskan pada penguatan investasi di sektor hulu herbal nasional melalui peningkatan riset tanaman rempah dan bahan baku herbal berkualitas tinggi. Sido Muncul juga terus mengembangkan penelitian tanaman obat untuk berbagai penyakit, termasuk kanker, diabetes mellitus, serta produk peningkat daya tahan tubuh yang beberapa di antaranya telah memasuki tahap uji praklinis.

Sebagai bagian dari penguatan bisnis berkelanjutan, perseroan meluncurkan platform edukasi digital HerbalPedia guna meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengobatan berbasis herbal sekaligus memperluas penetrasi pasar produk suplemen herbal.

Di pasar internasional, Sido Muncul menargetkan ekspansi ke Arab Saudi serta memperluas penetrasi di kawasan ASEAN dan Afrika melalui jalur pasar mainstream. Langkah ini dilakukan seiring komitmen perusahaan menjaga kualitas produk dan menekan biaya operasional melalui efisiensi produksi, kemasan, pengelolaan pemasok, promosi, dan rantai pasok.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, Sido Muncul membukukan pendapatan sebesar Rp640,5 miliar, turun sekitar 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp789,1 miliar. Namun, penurunan ini disebut lebih disebabkan oleh normalisasi persediaan di tingkat distributor, bukan pelemahan permintaan konsumen.

Irwan menjelaskan akumulasi stok distributor terjadi akibat pola pembelian akhir tahun 2025 dengan harga lama, sehingga penyesuaian distribusi diperlukan untuk menjaga efisiensi pasar dan kestabilan harga produk.

Meski pendapatan kuartal pertama menurun, permintaan ritel dinilai tetap solid, terutama di Pulau Jawa dan Sumatra. Produk unggulan seperti Tolak Angin, Kuku Bima Ener-G!, Esemag, dan Tolak Linu masih mendominasi pasar herbal nasional, dengan Tolak Angin menguasai sekitar 72 persen pangsa pasar. Sido Muncul pun meyakini prospek industri herbal tetap cerah seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan gaya hidup alami. (end)


Kembali ke Blog