07830530
IQPlus, (20/3) - Pemerintah menegaskan pentingnya penyelesaian perundingan ekonomi komprehensif dengan Uni Eropa (IEU CEPA) guna menjaga pasar industri tekstil nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, menyampaikan bahwa Uni Eropa merupakan pasar terbesar bagi industri tekstil dan produk tekstil Indonesia, dengan pangsa sekitar 30 persen dari permintaan global.
"IEU yang besarnya marketnya, sekitar hampir 30 persen dari demand global, Amerika sekitar 15 persen dan sisanya negara-negara lain," ujarnya.
Airlangga mencontohkan bahwa Vietnam berhasil meningkatkan ekspor tekstilnya hingga 50 persen setelah menyelesaikan perjanjian perdagangan serupa.
Hal ini menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto, yang menargetkan agar industri tekstil Indonesia dapat memperoleh manfaat serupa setelah IEU-CEPA diberlakukan, kata Airlangga menambahkan.
Selain memperluas pasar ekspor, pemerintah juga telah merumuskan kebijakan domestik untuk memperkuat daya saing industri tekstil dalam negeri, khususnya bagi usaha menengah dan kecil (UMK).
Salah satu langkah strategis adalah program revitalisasi permesinan, yang regulasinya akan segera diterbitkan. Pemerintah telah mengalokasikan dana Rp20 triliun sebagai subsidi investasi untuk mendukung modernisasi peralatan produksi.
"Kalau mesinnya tidak diperbaiki, daya saing, baik dari penggunaan energi maupun produksi, speed-nya akan lebih lambat," katanya. (end/ant)