02947748
IQPlus, (30/1) - Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (Banggar DPR) RI meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berbenah dan membuka diri untuk menerima koreksi yang konstruktif dari siapa pun, terutama masukan pembenahan administrasi yang disarankan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah menilai pelaku pasar, otoritas bursa, dan OJK harus menangkap pesan MSCI sebagai koreksi konstruktif untuk membangun bursa saham yang sehat.
"Kita tidak boleh menutup mata terhadap sejumlah koreksi yang dilakukan oleh MSCI terhadap bursa di Indonesia," ujar Said dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat.
Ia menyebut langkah MSCI yang akan mengeluarkan sejumlah emiten besar dalam pemeringkatan mereka membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpukul dalam dua hari belakangan.
MSCI berdalih ada persoalan free float (saham yang diperdagangkan bebas), likuiditas riil, dan transparansi pada sejumlah emiten besar dalam bursa saham di Tanah Air.
Dikatakan bahwa kebijakan tersebut memicu erosi besar di IHSG. Pada Rabu (28/1), IHSG turun hingga 7,3 persen dan memaksa otoritas bursa menempuh trading halt (penghentian sementara aktivitas saham).
Kemudian pada Kamis (29/1), IHSG masih tertekan melemah 8,5 persen, meski pelemahan berkurang menjadi 1,76 persen pada penutupan perdagangan.
Said memahami adanya faktor kepercayaan terhadap lembaga yang dianggap kredibel, terutama dalam bisnis, yang bahkan melampaui urusan "kecakapan", meskipun kecakapan dan integritas merupakan modal utama membangun kepercayaan.
Saat lembaga mendapat kepercayaan, sambung dia, terkadang seperti memegang kuasa untuk mengeluarkan "fatwa", bahkan terkadang juga "fatwa" itu dipatuhi tanpa pengganti, sekali pun dalam dunia bisnis yang seharusnya sangat matematis dan logis.
"Di sini lah sebenarnya titik gentingnya yang seharusnya kita juga harus kritis. Apalagi di bursa Indonesia, tidak banyak 'pemain' pemeringkatan seperti MSCI," tuturnya. (end/ant)