12728400
IQPlus, (8/5) - Bank Indonesia (BI) menyampaikan pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik sempat mengalami tekanan sepanjang triwulan I 2026 akibat meningkatnya ketidakpastian global, namun mulai menunjukkan pemulihan pada awal triwulan II 2026.
Tekanan tersebut dipicu oleh sentimen risk-off investor global yang dipengaruhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak dunia yang berimbas pada meningkatnya inflasi global, sehingga memicu kenaikan yield surat utang di berbagai negara.
Sejalan dengan kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun sebesar 38 basis poin (bps) selama Maret 2026, yield obligasi pemerintah negara berkembang turut meningkat antara 14 hingga 298 bps. Indonesia juga terdampak, dengan yield SBN naik sebesar 43 bps pada periode tersebut.
Kenaikan yield tersebut memicu arus keluar dana asing dari pasar obligasi domestik. BI mencatat kepemilikan investor asing di pasar SBN menurun sebesar Rp21,81 triliun selama Maret 2026.
Meski demikian, memasuki April 2026 tekanan mulai mereda. Hingga 5 Mei 2026, yield SBN tenor 10 tahun tercatat turun 6 bps dibandingkan posisi akhir Maret 2026. Selain itu, kepemilikan asing mulai kembali meningkat sebesar Rp14,25 triliun dibandingkan akhir Maret.
Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap pasar obligasi domestik mulai pulih seiring meredanya tekanan eksternal dan membaiknya stabilitas pasar keuangan nasional. (end)