33740151
IQPlus, (3/12) - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengembangkan potensi perdagangan karbon pada 2025 untuk mencermati peluang yang besar khususnya dari pembangkit listrik yang memanfaatkan batu bara dalam sistem perdagangan emisi.
"Tahun depan akan ada 450 pembangkit yang kena (pembatasan karbon)," kata Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 2 BEI Ignatius Denny Wicaksono di sela menerima kunjungan media dari Bali di Jakarta, Selasa.
Untuk mendukung pengembangan potensi itu, BEI melalui IDX Carbon berkomitmen untuk mengembangkan perdagangan karbon yang transparan, teratur dan sesuai dengan praktik dunia.
Ada pun mekanisme yang dapat ditempuh di antaranya lelang, negosiasi, lelang berkelanjutan (reguler), dan melalui loka pasar (market place) yakni pemilik proyek mitigasi emisi dapat menjual unit karbon dengan harga yang telah ditentukan.
Saat ini, lanjut dia, ada dua jenis pasar karbon yakni sistem perdagangan emisi salah satunya ditunjuk langsung pemerintah untuk membatasi emisi karbon.
Tahun ini, kata dia, ada 170 pembangkit listrik yang menggunakan dengan bahan bakar berbahan batu bara dan rencananya pada 2025 ada sekitar 450 pembangkit listrik tenaga serupa yang dibatasi karbonnya dengan jumlah kuota tertentu.
Ignatius menambahkan pasar karbon kedua yakni dibuka untuk pasar karbon sukarela atau semua pihak dapat berkontribusi menurunkan emisi karbon.
"Jadi siapa saja atau daerah mana saja bisa membuat proyek penurunan emisi. Itu bisa menjual unit karbon dan ini bisa mendorong pemerataan," ucapnya. (end/ant)