30629965
IQPlus, (3/11) - Pemerintahan Presiden AS Donald Trump siap menaikkan tarif terhadap Tiongkok jika Beijing terus memblokir ekspor tanah jarang, Menteri Keuangan Scott Bessent memperingatkan pada hari Minggu (2 November).
Tiongkok mengumumkan pada hari Kamis bahwa mereka akan menangguhkan selama satu tahun pembatasan yang diberlakukan pada bulan Oktober terhadap material dan teknologi tanah jarang, tetapi Bessent menyuarakan kekhawatiran bahwa Beijing tidak selalu menepati komitmennya.
"Tiongkok telah menguasai pasar (tanah jarang), dan sayangnya, terkadang mereka terbukti menjadi mitra yang tidak dapat diandalkan," ujar Bessent kepada Fox News pada hari Minggu.
Logam-logam tersebut ditambang di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, tetapi Tiongkok memiliki monopoli virtual atas pemrosesan logam-logam ini untuk keperluan industri.
Penangguhan ini diumumkan menyusul pembicaraan terbaru antara Trump dan mitranya dari Tiongkok, Xi Jinping, di Korea Selatan.
Beberapa pembatasan ekspor yang sebelumnya diputuskan oleh Beijing tetap berlaku.
Menyusul kesepakatan dan "itikad baik" antara para pemimpin dua ekonomi terbesar dunia, kata Bessent, ia berharap "kita dapat mengandalkan mereka untuk menjadi mitra yang lebih andal".
Jika tidak, "kita bisa kembali mengancam tarif", Bessent memperingatkan, menekankan bahwa Washington telah siap menggunakan "daya ungkit maksimum".
"Kita tidak ingin berpisah dengan Tiongkok, tetapi kita harus mengurangi risiko," ujarnya.
Bessent juga menuduh pemerintahan AS sebelumnya "tertidur saat dibutuhkan" karena Beijing menghabiskan waktu bertahun-tahun menyusun strategi tanah jarangnya.
"Sekarang pemerintahan ini, kita akan bergerak dengan kecepatan tinggi selama satu, dua tahun ke depan, dan kita akan keluar dari cengkeraman Tiongkok atas kita dan mereka juga menguasai seluruh dunia," ujarnya dalam acara bincang-bincang "State of the Union" di CNN.
Sebagai bagian dari kesepakatan yang diumumkan, Washington akan mengurangi tarif yang dikenakan pada ekspor Tiongkok ke Amerika Serikat sebesar 10 persen.
Perjanjian tersebut juga mewajibkan Tiongkok untuk mengambil langkah-langkah signifikan guna membendung aliran fentanil ke Amerika Serikat, di mana konsumsi opioid sintetis yang kuat tersebut telah menyebabkan puluhan ribu kematian.
Menurut Badan Penegakan Narkoba AS, Tiongkok sejauh ini merupakan pemasok fentanil terbesar ke Amerika Serikat. (end/AFP)