BOJ LAPORKAN DAMPAK EKONOMI AKIBAT PERANG IRAN-AS

  • Info Pasar & Berita
  • 06 Apr 2026

09556489

IQPlus, (6/4) - Bank Sentral Jepang (BOJ) mengatakan bahwa kenaikan harga minyak dan gangguan pasokan yang disebabkan oleh konflik di Timur Tengah dapat merugikan perekonomian, menandakan kehati-hatian terhadap risiko penurunan pertumbuhan.

Hal ini dapat mendorongnya untuk berhati-hati dalam menaikkan suku bunga.

Penilaian tersebut, yang dibuat dalam laporan Senin (6 April) berdasarkan temuan dari cabang-cabang regional bank, kontras dengan perdebatan hawkish dewan yang berfokus pada risiko inflasi akibat perang.

Laporan tersebut juga menyoroti ketidakpastian mengenai apakah BOJ dapat menaikkan suku bunga pada bulan April.

Dalam laporan triwulanan tersebut, bank sentral mengatakan bahwa perusahaan di beberapa wilayah sudah merasakan tekanan akibat kenaikan biaya input dan gangguan pasokan bahan baku yang disebabkan oleh perang Iran.

"Seiring meningkatnya ketidakpastian, beberapa perusahaan khawatir bahwa kenaikan harga, terutama untuk energi, dapat merugikan laba dan konsumsi perusahaan."

Bank Sentral Jepang (BOJ) menyatakan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan yang disebabkan oleh perang di Timur Tengah dapat meluas. BOJ memperingatkan bahwa konflik tersebut dapat merugikan perekonomian regional tergantung pada perkembangan di masa mendatang.

Namun, BOJ tetap mempertahankan penilaian ekonomi yang optimis untuk kesembilan wilayah tersebut, dengan konsumsi yang tetap stabil karena pariwisata masuk dan kenaikan upah.

Mengenai prospek upah, banyak wilayah mengatakan perusahaan berencana untuk menaikkan upah pada tahun 2026 dengan laju yang hampir sama seperti pada tahun 2025, meskipun beberapa mengatakan rencana mereka dapat terpengaruh tergantung pada prospek konflik di Timur Tengah.

Laporan tersebut didasarkan pada survei yang dilakukan oleh cabang-cabang regional hingga sekitar akhir Maret, dan oleh karena itu mencerminkan dampak dari konflik yang meletus setelah serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari. (end/Reuters)

Kembali ke Blog