BUMA INTERNATIONAL GROUP BUKUKAN PENINGKATAN KINERJA KUARTAL I 2026

  • Info Pasar & Berita
  • 02 Jun 2026

15225911

IQPlus, (2/6) - PT BUMA Internasional Grup Tbk membukukan peningkatan kinerja perusahaan untuk kuartal pertama yang berakhir pada 31 Maret 2026 (1Q26) yang mencerminkan berlanjutnya pemulihan dari tantangan operasional yang dihadapi pada 1Q25.

Menurut Direktur BUMA International Group Iwan Fuad Salim, kinerja tersebut didukung oleh perbaikan struktural pada produktivitas, biaya unit, dan disiplin operasional.

"Pada 1Q26 menunjukkan bahwa pemulihan yang kami bangun sepanjang 2025 terus berlanjut di kuartal yang secara musiman penuh tantangan," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Perbaikan operasional pada 1Q26, tambahnya, melanjutkan tren yang telah dibangun sepanjang 2025. Di operasional Indonesia, jam nonproduktif (non-productive hours) turun 14 persen seiring dengan penanganan atas kondisi licin akibat hujan serta hambatan pada area disposal, jalan angkut, dan kondisi geologi.

Produktivitas bank cubic meter (BCM)/jam meningkat 1 persen year on year (YoY) sejalan dengan penurunan cycle time sebesar 1 persen YoY, yang didukung oleh kondisi jalan angkut yang lebih baik dan berkurangnya waktu antre.

Biaya unit (unit cost) per BCM turun 1 persen YoY, menunjukkan disiplin biaya yang tetap terjaga. Biaya tenaga kerja per BCM turun 4 persen YoY, didukung oleh disiplin sif yang berkelanjutan dan penempatan operator yang lebih efisien, dengan rasio operator terhadap peralatan turun 3 persen YoY.

Biaya bahan bakar per BCM naik 3 persen YoY, sepenuhnya disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar, sementara konsumsi per BCM tetap stabil, mencerminkan efisiensi armada yang konsisten.

Biaya perbaikan dan pemeliharaan per BCM naik 13 persen YoY, seiring langkah terencana untuk percepatan aktivitas pemeliharaan guna memaksimalkan kesiapan peralatan menghadapi periode operasional yang lebih kering pada kuartal kedua dan ketiga.

Melihat perkembangan setelah kuartal pertama, menurut Iwan, pemulihan operasional berlanjut hingga April dan tercermin dalam peningkatan volume, didukung oleh eksekusi yang lebih solid dan kondisi cuaca yang mulai membaik.

Volume bulanan pengupasan lapisan tanah penutup gabungan Indonesia dan Australia meningkat dari 26,4 juta bank cubic meter (MBCM) pada Februari menjadi 30,4 MBCM pada Maret dan 34,3 MBCM pada April.

Sementara itu, produksi batu bara mencapai 5,9 juta ton (MT) pada April, masing-masing sekitar 16 persen dan 22 persen di atas rata-rata bulanan 1Q26.

Sedangkan volume overburden removal turun 12 persen YoY menjadi 89 juta bank cubic meters (MBCM), sementara produksi batu bara turun 20 persen YoY menjadi 15 juta ton (MT).

Penurunan volume terutama mencerminkan berakhirnya kontrak di site Binungan di Indonesia dan site Burton di Australia, serta ramp-down di dua site Indonesia pada 2025. Site yang beroperasi normal tetap stabil.

Pendapatan tercatat sebesar 318 juta dolar AS, turun 10 persen YoY, sejalan dengan portofolio aktif yang lebih kecil.

Average Selling Price (ASP) bisnis kontraktor pertambangan naik 3 persen YoY, didukung oleh porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi serta kenaikan tarif berjenjang yang terkait dengan harga batu bara.

EBITDA meningkat 98 persen YoY menjadi 28 juta dolar AS dari 14 juta dolar AS pada 1Q25, dengan margin EBITDA meningkat menjadi 11 persen dari 5 persen pada 1Q25.

Sementara itu, perusahaan mencatat rugi bersih sebesar 24 juta dolar AS, dibandingkan dengan rugi bersih sebesar 70 juta dolar AS pada 1Q25.

Perbaikan sebesar 66 persen YoY ini, lanjutnya, mencerminkan pemulihan EBITDA serta tiga faktor non-operasional yang mendukung, yaitu keuntungan sebesar 12 juta dolar AS dari optimisasi portofolio ACG yang masih berjalan melalui penjualan aset lahan.

Kemudian, penurunan kerugian investasi dari 29 Metals sebesar 12 juta dolar AS, serta tidak berulangnya pencadangan piutang di Australia sebesar 4 juta dolar AS yang dicatat pada 1Q25.

Belanja modal tercatat sebesar 20 juta dolar AS, yang dialokasikan untuk menjaga keandalan armada dan keberlanjutan operasional.

Arus kas bebas (free cash flow) berbalik positif menjadi 2 juta dolar AS, dibandingkan dengan negatif 19 juta dolar AS pada 1Q25. (end)

Kembali ke Blog