05030650
IQPlus, (20/2) - Pengambil Kebijakan European Central Bank (ECB) Isabel Schnabel menyebutkan pertumbuhan produktivitas yang lamban di Eropa dapat memperlambat penurunan inflasi ke target dua persen bank sentral Eropa.
Schnabel menyatakan sejumlah faktor di balik kinerja ekonomi zona euro yang buruk dibandingkan dengan AS, termasuk rendahnya investasi di bidang teknologi, lebih banyak birokrasi, dan lebih mahalnya energi. Dia berargumentasi bahwa hal ini dapat menunda kemenangan ECB dalam menghadapi inflasi yang tinggi dan waktu penurunan suku bunga pertamanya.
"Pertumbuhan produktivitas yang terus-menerus rendah, dan bahkan negatif, memperburuk dampak kuatnya pertumbuhan upah nominal saat ini terhadap biaya unit tenaga kerja bagi perusahaan," katanya, dalam sebuah acara di Florence, Italia, dikutip dari The Business Times, Selasa, 20 Februari 2024.
"Hal ini meningkatkan risiko bahwa perusahaan akan membebankan biaya upah yang lebih tinggi kepada konsumen, yang dapat menunda kembalinya inflasi ke target kami sebesar dua persen," tambahnya.
Menegaskan kembali pendiriannya, Schnabel mengatakan, ini berarti ECB harus berhati-hati dan tidak memotong suku bunga sebelum waktunya untuk menghindari gejolak inflasi yang kedua seperti yang terjadi pada 1970an.
Dia mengatakan mempermudah pembukaan dan meningkatkan usaha-usaha yang sukses dan menghentikan usaha-usaha yang gagal merupakan salah satu langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan produktivitas zona euro. Produktivitas yang lebih tinggi akan membuat hidup lebih mudah bagi ECB dalam menghindari periode inflasi yang terlalu tinggi dan terlalu rendah.
"Langkah-langkah yang membantu perusahaan meningkatkan pertumbuhan produktivitas secara langsung mendukung kebijakan moneter dalam mencapai tujuannya untuk menjamin stabilitas harga dalam jangka menengah," pungkas Schnabel. (end/ba)