12448449
IQPlus, (5/5) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengoptimalkan pemanfaatan data cuaca dan maritim guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Komersialisasi dan Transportasi Minyak dan Gas Bumi Satya Hangga Yudha Widya Putra, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, menekankan pentingnya sinkronisasi data antara BMKG dan Kementerian ESDM untuk mendukung efisiensi operasional di sektor migas, minerba, energi baru, terbarukan, dan konservasi energi (EBTKE), hingga ketenagalistrikan.
"Kolaborasi ini untuk memberikan dukungan data yang akurat bagi kontraktor kontrak kerja sama, mempercepat transisi energi, serta menjaga kedaulatan energi nasional melalui penggunaan data Merah Putih," ujarnya.
Menurut dia, pemanfaatan sistem pemantauan 30.000 kapal yang bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan dan data kredibel dari BMKG termasuk potensi angin dan surya, curah hujan, angin, petir, gempa bumi, ombak, gelombang laut sangat dibutuhkan sektor ESDM.
Hangga juga mengatakan saat ini pemerintah juga tengah mengejar target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 GW dalam 2-3 tahun ke depan, meningkat signifikan dari kapasitas saat ini yang 1,5 GW.
Selain itu, program dedieselisasi di wilayah terluar, tertinggal, dan terdepan (3T) diprioritaskan untuk mengganti PLTD yang berbiaya tinggi, dengan solusi PLTS yang lebih kompetitif untuk skala kecil.
Hangga melanjutkan dalam upaya mencapai swasembada energi sesuai visi Astacita, pemerintah memastikan bahwa solar untuk kebutuhan industri kini sepenuhnya dipenuhi dari produksi domestik melalui mandatori biodiesel.
"Campuran fatty acid methyl ester (FAME) yang saat ini berada di level 40 persen (B40) direncanakan naik menjadi 50 persen (B50) pada 1 Juli 2026," ujarnya saat melakukan kunjungan kerja ke BMKG di Jakarta, Senin (4/5/2026). (end/ant)