HARGA MINYAK MENYENTUH LEVEL TERTINGGI DALAM SEMINGGU

  • Info Pasar & Berita
  • 12 Agt 2026

22324982

IQPlus, (12/8) - Harga minyak menyentuh level tertinggi dalam satu minggu pada hari Selasa (11 Agustus) dan Wall Street ditutup melemah seiring meningkatnya pesimisme para pedagang mengenai potensi kesepakatan untuk menciptakan stabilitas di Timur Tengah serta membuka kembali Selat Hormuz.

Ketidakpastian mengenai prospek inflasi global juga turut memberikan tekanan.

Harga emas turun dari level tertinggi dalam dua bulan menjelang rilis data harga konsumen yang dijadwalkan pada hari Rabu.

Selat Hormuz akan tetap ditutup selama AS tidak mengubah sikapnya dan menerima syarat-syarat Iran untuk mengakhiri perang, demikian disampaikan oleh pejabat yang baru ditunjuk sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada hari Selasa.

"Pasar sedang mencermati kemungkinan adanya semacam peredaan ketegangan, meskipun keliru jika menganggap bahwa penyelesaian apa pun merupakan babak akhir dari kisah ini," ujar Ron Albahary, kepala pejabat investasi di LNW.

Pasar saham global kehilangan kenaikan yang sempat dicapai sebelumnya, dengan indeks saham global MSCI turun sebesar 0,23 persen.

Aksi saling balas pernyataan antara AS dan Iran menjadi sorotan di tengah meningkatnya ketegangan yang memicu lonjakan harga minyak sebesar 5 persen pada hari Senin.

Pada hari Senin, Presiden AS Donald Trump menanggapi syarat Iran untuk sebuah kesepakatan dengan mengajukan syaratnya sendiri; ia menuntut Iran membayar kompensasi bagi korban tewas dalam berbagai perang, serangan, dan unjuk rasa langkah yang berpotensi mempersulit upaya pembukaan kembali jalur perairan vital tersebut.

Harga minyak berjangka Brent naik US$1,19 atau 1,4 persen dan ditutup pada level US$88,91 per barel, sementara harga minyak mentah AS naik US$1,07 atau 1,3 persen menjadi US$83,20.

"Situasinya kini hampir akan menjadi perang adu ketahanan," ujar Tony Sycamore, analis pasar di IG. "Anda mungkin akan melihat pasar (minyak) bergerak di kisaran US$75 hingga US$95 sembari kita menunggu siapa yang akan mengalah lebih dulu." (end/Reuters)

Kembali ke Blog