02641503
IQPlus, (27/1) - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menilai Program Kredit Industri Padat Karya (KIPK) sebagai langkah nyata pemerintah dalam memperkuat industri tersebut melalui akses pembiayaan yang lebih terjangkau dan berkelanjutan.
Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur dalam pernyataan di Jakarta, Selasa menyatakan, Program KIPK terus diperkenalkan kepada dunia usaha sebagai solusi pendanaan yang dapat langsung dimanfaatkan oleh sektor industri yang menyerap banyak tenaga kerja.
Program ini, kata dia, mampu menjaga keberlanjutan usaha sekaligus mendorong pertumbuhan industri nasional.
Adapun pelaksanaan KIPK ditopang oleh regulasi lintas kementerian, mulai dari koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, pengaturan subsidi oleh Kementerian Keuangan, hingga penetapan kriteria penerima dan pedoman teknis oleh Kementerian Perindustrian, sehingga program ini menurutnya dinilai siap diterapkan secara operasional dan tepat sasaran.
Lebih lanjut, pihaknya bersama dengan Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) dan Bank Mandiri menyelenggarakan Sosialisasi Program Pembiayaan Bersubsidi untuk Pelaku Usaha yang digelar di Bandung, Senin (26/1).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pembiayaan KIPK yang produktif bagi pelaku usaha industri padat karya berorientasi ekspor.
Kata dia, Jawa Barat memiliki peran strategis sebagai salah satu motor utama ekspor nasional. Oleh karena itu, penguatan pembiayaan KIPK bagi dunia usaha harus dilakukan secara sistematis dan terstruktur.
"Nilai ekspor Jawa Barat berada pada posisi teratas nasional, mendekati 38 miliar dolar AS. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi mencerminkan jutaan tenaga kerja yang ditopang oleh aktivitas ekspor dan industri. Karena itu, pembiayaan bersubsidi harus menjadi instrumen nyata untuk menjaga produktivitas, mempertahankan lapangan kerja, sekaligus mempercepat pertumbuhan ekspor,"ujar Sobur. (end/ant)