23545192
IQPlus, (24/8) Angka inflasi Singapura berada di bawah perkiraan meskipun sempat melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua tahun pada bulan Juli, akibat kenaikan harga energi yang dipicu oleh konflik Iran yang turut mendongkrak tarif listrik.
Negara kota tersebut melaporkan bahwa harga konsumen bulan lalu naik 2,2% secara tahunan (*year-on-year*); angka ini lebih rendah dibandingkan perkiraan 2,3% dari para ekonom yang disurvei Reuters, namun lebih tinggi dari kenaikan 1,9% yang tercatat pada bulan Juni.
Secara bulanan (*month-on-month*), indeks harga konsumen turun sebesar 0,2%.
Menurut pernyataan bersama Otoritas Moneter Singapura (MAS) dan Kementerian Perdagangan dan Industri, tingginya harga energi global telah menyebabkan kenaikan tarif listrik dan gas serta ongkos transportasi di Singapura.
"Harga minyak global tetap tinggi dan fluktuatif, sementara kondisi cuaca buruk diperkirakan akan menurunkan hasil pertanian dan menaikkan harga pangan impor di Singapura," demikian bunyi pernyataan tersebut, seraya menambahkan bahwa harga berbagai barang dan jasa impor lainnya diperkirakan akan terus meningkat ke depannya.
MAS sebelumnya telah memperketat kebijakan moneter melalui langkah tak terduga pada bulan Juli, serta memperingatkan bulan lalu bahwa inflasi impor kemungkinan akan meningkat pada kuartal-kuartal mendatang akibat tingginya biaya bahan bakar dan komponen elektronik.
Inflasi inti yang tidak memperhitungkan harga transportasi pribadi dan akomodasi naik menjadi 2%, dibandingkan dengan perkiraan sebesar 2,2%.
Singapura telah meluncurkan dua paket bantuan sebagai respons terhadap konflik Iran dengan total nilai sekitar 2 miliar dolar Singapura, yang mencakup pemberian uang tunai, voucer konsumsi bagi rumah tangga, serta keringanan pajak bagi perusahaan.
Data inflasi ini juga muncul bersamaan dengan langkah negara kota tersebut merevisi naik secara tajam perkiraan PDB untuk keseluruhan tahun 2026; pertumbuhan kini diproyeksikan mencapai kisaran 4,5% hingga 5,5%, atau lebih dari dua kali lipat batas bawah perkiraan sebelumnya yang berada di angka 2%-4%. (end/CNBC)