25828293
IQPlus, (16/9) -Industri pelumas memiliki peran penting dalam mendukung berbagai aktivitas di sektor manufaktur. Kementerian Perindustrian terus memperkuat kemampuan industri produk pelumas di dalam negeri melalui penguatan basis manufakturnya. Hal ini tercermin dari masuknya investasi manufaktur dengan membangun kapasitas produksi baru yang sekaligus membuka peluang peningkatan nilai tambah, pemanfaatan industri pendukung, dan substitusi impor.
"Bagi Pemerintah, investasi ini penting karena menghadirkan kapasitas produksi dan teknologi manufaktur baru, sekaligus memperkuat keterkaitan dengan industri pendukung di dalam negeri. Inilah arah industrialisasi yang kita kehendaki, yaitu investasi yang memperkuat kapasitas produksi, nilai tambah, teknologi, dan ekosistem industri nasional," ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat meresmikan Shell Grease Manufacturing Plant di Marunda, Bekasi, Selasa (15/9).
Penguatan basis manufaktur tersebut sejalan dengan kinerja positif industri pengolahan nonmigas (IPNM) nasional. Pada Triwulan II 2026, IPNM tumbuh 5,32 persen secara tahunan (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. IPNM juga memberikan kontribusi pertumbuhan terbesar, yakni 0,97 poin persentase.
Menperin menyampaikan, kinerja manufaktur nasional tersebut tidak terlepas dari kontribusi dan kepercayaan para pelaku industri yang terus memperkuat kegiatan produksinya di Indonesia. Salah satunya yaitu Shell, yang kembali menunjukkan komitmennya melalui penguatan basis manufaktur di Marunda.
Setelah melakukan pengembangan Lubricants Oil Blending Plant (LOBP) pada 2022, kapasitas produksi pelumas Shell di Marunda mencapai hingga 300 juta liter per tahun. Kehadiran GMP kemudian melengkapi fasilitas tersebut dengan kapasitas produksi grease sebesar 12.000 ton per tahun.
"Dengan kapasitas tersebut, GMP Marunda berdasarkan data Shell, termasuk dalam tiga besar fasilitas grease Shell secara global. Ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi penting dalam pengembangan kegiatan manufaktur Shell," katanya.
Pengoperasian GMP Marunda juga memiliki arti penting dalam pemenuhan kebutuhan produk grease di pasar domestik. Pada 2025, impor Indonesia untuk produk grease atau gemuk pelumas dengan kode HS 27101944 tercatat sekitar 22.377 ton. Dari jumlah tersebut, impor produk grease Shell dengan merek Shell Gadus mencapai sekitar 11.757 ton.
Dengan beroperasinya GMP Marunda, produk Shell Gadus yang sebelumnya dipasok dari luar negeri kini dapat diproduksi di Indonesia. Kapasitas produksi tersebut diharapkan semakin memperkuat pemenuhan kebutuhan grease dari produksi dalam negeri sekaligus membuka ruang substitusi impor dan penciptaan nilai tambah di Indonesia.
Selain kapasitas produksi, Menperin menilai keterkaitan investasi dengan industri nasional menjadi aspek penting dalam penguatan ekosistem manufaktur. Saat ini, Shell telah melibatkan lebih dari 50 vendor domestik dengan nilai pengadaan sekitar Rp30 miliar per tahun.
"Keterlibatan vendor domestik menjadi fondasi yang baik untuk membangun ekosistem rantai pasok yang semakin kuat di dalam negeri. Ke depan, local sourcing dapat terus diperluas, terutama untuk bahan baku, kemasan, dan jasa industri, sehingga manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas melalui tumbuhnya industri pendukung dan kegiatan ekonomi di sepanjang rantai pasok," tuturnya. (end)