08555927
IQPlus, (27/3) - Jepang meminta Amerika Serikat agar dikecualikan dari negara-negara yang dikenakan tarif otomotif, dan menyebut langkah terbaru dari pemerintahan Presiden Donald Trump itu .sangat disesalkan..
.Kami mendesak (pemerintah AS) untuk mengecualikan Jepang dari kebijakan tersebut,. kata Kepala Sekretaris Kabinet Yoshimasa Hayashi pada Kamis (27/3).
Menurut dia, Perdana Menteri Shigeru Ishiba telah menginstruksikan para menteri terkait untuk bekerja sama menanggapi isu ini.
Menteri Perindustrian Yoji Muto mengatakan bahwa Tokyo telah kembali mendesak Washington untuk mengecualikan Jepang dari tarif tambahan 25 persen yang dikenakan untuk semua mobil yang dibuat di luar AS.
Hayashi mengatakan langkah AS untuk membatasi perdagangan dapat berdampak besar pada hubungan ekonomi bilateral, ekonomi global, dan sistem perdagangan multilateral.
Pengiriman mobil dan suku cadang mobil mendominasi total ekspor Jepang ke AS.
Hayashi menggarisbawahi kontribusi besar yang telah diberikan oleh perusahaan-perusahaan Jepang, termasuk produsen mobil, terhadap ekonomi AS.
Produsen mobil Jepang telah melakukan investasi langsung ke AS senilai sekitar 61,6 miliar dolar AS (sekitar Rp1 kuadriliun) dan menciptakan sekitar 2,3 juta lapangan pekerjaan, katanya.
"Sangat disesalkan bahwa Amerika Serikat memutuskan untuk menaikkan tarif otomotif tanpa pengecualian. Kami akan memeriksa dengan saksama dampaknya terhadap Jepang dan akan terus menyerukan pengecualian,. ujarnya.
Pada Rabu (26/3), Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif tambahan 25 persen untuk semua impor mobil, tanpa pengecualian.
Kenaikan tarif yang diberlakukan mulai 3 April ini dikhawatirkan akan mengganggu rantai pasokan global dan memukul produsen mobil Jepang, mengingat ekspor mereka ke pasar AS.
"Kita harus mempertimbangkan langkah-langkah untuk merespons dengan tepat. Kita memiliki semua opsi yang memungkinkan," kata PM Ishiba dalam pertemuan dengan Dewan Penasihat Jepang.
Mengingat kemungkinan dampak ekonomi yang negatif, Jepang telah meminta untuk dibebaskan dari tarif otomotif tersebut. Namun, upaya Tokyo untuk mendapatkan perlakuan istimewa tampaknya gagal.(end/ant)