05633437
IQPlus, (26/2) - Setelah dua tahun invasi Rusia ke Ukraina kini terdapat tanda-tanda jelas bahwa perekonomian global terpecah menjadi dua blok terpisah. Tak hanya itu, aturan perdagangan multilateral yang telah menopang perdagangan selama hampir 30 tahun berada di bawah ancaman.
Mengutip Reuters, Senin, 26 Februari 2024, meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk di Timur Tengah, dan kekhawatiran terhadap keamanan ekonomi menyebabkan sanksi, pembatasan perdagangan, dan tanda-tanda perpecahan yang semakin besar antara negara-negara yang mendukung Rusia dan negara-negara yang mendukung Ukraina.
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), yang akan menjadi tuan rumah konferensi tingkat menteri dua tahunan untuk membahas peraturan perdagangan global pada minggu depan, memperingatkan perpecahan menjadi dua blok yang bersaing akan menyusutkan perekonomian global sebesar lima persen, dan negara berkembang menjadi pihak yang paling menderita.
Dalam skenario ekstrem ini, Amerika Serikat, Tiongkok, dan sekutunya akan terlibat dalam perang dagang bipolar dan masing-masing blok akan menetapkan aturan mereka sendiri, dengan mengabaikan perjanjian multilateral.
"Kita belum mencapai titik tersebut, namun para ekonom WTO telah menunjukkan bahwa sejak invasi Rusia pada Februari 2022, kedua blok tersebut semakin terpecah. Kami menemukan bukti awal adanya tren menuju keselarasan yang lebih kuat antara arus perdagangan dan kedekatan geopolitik sejak dimulainya perang di Ukraina,. kata mereka dalam sebuah laporan.
"Temuan kami menunjukkan tanda-tanda pertama terjadinya fragmentasi dalam perdagangan global," tambahnya.
Mereka membagi dunia berdasarkan pola pemungutan suara PBB yang berbeda, namun tidak terbatas pada resolusi mengenai perang Ukraina. Mereka mengecualikan Ukraina, Rusia dan sekutu Rusianya Belarus untuk menghilangkan dampak sanksi dan perang itu sendiri.
Meskipun para ekonom menunjukkan tanda-tanda 'friend-shoring', mereka tidak menemukan bukti adanya near-shoring yang ekstensif, tidak adanya peningkatan perdagangan di dalam kawasan, meskipun mereka tidak menilai apakah negara-negara mengembalikan sebagian rantai nilai ke wilayah mereka sendiri.
'Friend-shoring' adalah istilah yang digunakan oleh Menteri Keuangan AS Janet Yellen dan lainnya untuk mendorong negara-negara melakukan diversifikasi rantai pasokan dari Tiongkok ke negara demokrasi yang berorientasi pasar seperti India. (end/ba)