30756663
IQPlus, (4/11) - Hasil asesmen KSSK menunjukkan bahwa stabilitas fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama triwulan III 2026 tetap terjaga, didukung oleh koordinasi dan sinergi kebijakan yang erat antarotoritas. Perekonomian domestik masih menunjukkan ketahanan, tecermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap solid dan intermediasi keuangan yang terjaga.
Namun demikian, tekanan kembali meningkat memasuki Oktober 2026 seiring eskalasi konflik geopolitik yang mendorong naiknya harga energi global dan kebijakan moneter global yang cenderung ketat serta kondisi domestik yang ditandai mengetatnya likuiditas, pengumuman MSCI terkait kondisi pasar saham dan meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar sejalan meningkatnya arus modal keluar dari pasar saham. Di tengah tekanan tersebut, fundamental ekonomi nasional dan respons kebijakan yang adaptif mampu menjaga stabilitas sistem keuangan (SSK). KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking terhadap perkembangan ekonomi dan sektor keuangan serta memperkuat kerja sama dengan semua pemangku kepentingan untuk mengantisipasi dampak rambatan risiko global. Hal ini berdasarkan rapat berkala KSSK IV tahun 2026 yang telah dilaksanakan pada Rabu, 28 Oktober 2026.
Dalam siaran pers OJK (3/11) Prospek perekonomian global masih tertekan seiring dengan eskalasi konflik geopolitik
Masih kuatnya tensi perang di Timur Tengah mendorong tetap tingginya harga minyak dan berbagai komoditas dunia. Kebijakan moneter global mengetat dengan sejumlah bank sentral utama, seperti The Fed, European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BoJ) telah menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 25 bps pada September, serta diprakirakan berlanjut untuk jangka waktu yang lebih lama (higher for longer). Selain itu, imbal hasil (yield) US Treasury tetap tinggi sejalan dengan menguatnya ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter ke depan dan defisit anggaran Pemerintah AS yang besar.
Di pasar keuangan global, preferensi investor terhadap aset portofolio di negara berkembang masih terbatas dan menyebabkan tetap kuatnya indeks mata uang dolar AS terhadap negara maju (DXY) dan negara berkembang. Kondisi tersebut berpotensi menahan aliran modal ke emerging markets termasuk Indonesia, dan perkembangan ini akan terus dimitigasi dampaknya. IMF dalam World Economic Outlook Oktober 2026 memproyeksikan ekonomi global tumbuh sebesar 3,1% di tahun 2026, melambat dibandingkan tahun 2025, dengan inflasi global meningkat menjadi 4,7%.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2026 diprakirakan tetap kuat di tengah tekanan global
Pertumbuhan tetap ditopang oleh permintaan domestik dan kinerja ekspor yang positif. Konsumsi rumah tangga didorong oleh berlanjutnya berbagai stimulus fiskal Pemerintah. APBN terus berperan sebagai shock absorber melalui subsidi, kompensasi, perlindungan sosial (perlinsos), stabilisasi harga pangan, dan penciptaan lapangan kerja. Investasi diprakirakan tumbuh kuat seiring dengan proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas Pemerintah. Sementara itu, konsumsi Pemerintah didukung oleh percepatan belanja dan penyaluran bantuan sosial. Dari sisi eksternal, kinerja ekspor nonmigas meningkat dan semakin didorong untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga dan permintaan komoditas ekspor. Selain itu, Pemerintah turut menjaga ketahanan eksternal melalui kebijakan konversi hasil ekspor (DHE).
Kinerja positif perekonomian juga didukung oleh beberapa indikator ekonomi, antara lain penjualan mobil dan motor yang tumbuh tinggi masing-masing 28,1% yoy dan 15,4% yoy di bulan September dan PMI Manufaktur yang melanjutkan ekspansi ke level 54,0 di bulan Oktober. Dengan perkembangan tersebut, ekonomi Indonesia tahun 2026 diprakirakan tumbuh di atas 5,4% yoy. Untuk mempertahankan momentum pertumbuhan, penguatan sinergi kebijakan Pemerintah dan BI serta kolaborasi Pemerintah-Danantara melalui pendekatan "Two Arms of The State" terus diperkuat untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan bernilai tambah tinggi.
Ketahanan eksternal Indonesia perlu terus diperkuat guna memitigasi dampak rambatan tingginya ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan global.
Neraca perdagangan pada Januari-September 2026 mencatat surplus sebesar USD10,61 miliar, dengan perkembangan pada September 2026 mencatat surplus USD3,36 miliar. Aliran investasi portofolio asing pada triwulan III 2026 mencatat net outflows sebesar USD0,08 miliar, terutama disebabkan outflows pada saham. Pada awal triwulan IV 2026 (hingga 23 Oktober 2026), arus modal asing membaik dengan mencatat net inflows sebesar USD0,04 miliar, terutama didukung investasi pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Dengan perkembangan tersebut, aliran investasi portofolio asing tercatat net inflows sebesar USD13,23 miliar sejak Januari hingga 23 Oktober 2026.
Nilai tukar Rupiah sempat menguat hingga pertengahan September 2026, namun pada 2 November 2026 melemah -0,11% menjadi Rp18.145 per dolar AS dibandingkan dengan level pada akhir Oktober 2026. Pelemahan ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter AS, serta sentimen investor global terhadap aset negara berkembang. Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tetap kuat sebesar USD146,3 miliar, setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. (end)