35545814
IQPlus, (22/12) - Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto mendorong ekonomi Indonesia timur melalui program Teknologi Kampung Terpadu (TEKAD) yang akan berlanjut sampai Desember 2026.
"Kita menargetkan dari program TEKAD ini ada peningkatan ekonomi baik skalanya rumah tangga atau perusahaan seperti BUMDesa," katanya di Surabaya, Jatim, Senin.
Yandri mengatakan program TEKAD yang digagas sejak 2020 dinilai mampu mendongkrak perekonomian Indonesia timur, sehingga kesenjangan semakin kecil.
Salah satu yang disasar dalam waktu dekat adalah peningkatan jumlah kopi Bajawa di daerah Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang akan diekspor.
Ia merencanakan peningkatan ekspor Kopi Bajawa ke pasar internasional akan dilakukan dalam angka besar yakni dari lima ton menjadi 10 ton.
Secara rinci, kata dia, provinsi yang merupakan lokasi sasaran program TEKAD adalah NTT, Maluku, Malut, Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Tengah.
Nantinya, desa atau kampung di sembilan provinsi yang disasar tersebut akan dibangun berdasarkan potensi masing-masing baik dari sisi wisata maupun hasil bumi.
Menurutnya, wisata maupun hasil bumi setiap desa merupakan penentu arah gerak pertumbuhan ekonomi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Inti pokoknya kita tidak menyeragamkan semua desa satu produk enggak. Tapi, kita utamakan sesuai potensi desa itu menjadi keunggulan mereka," kata Yandri.
Dalam memajukan wilayah itu, Kemendes PDT berkolaborasi dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD) disertai fasilitator TEKAD dan masyarakat setempat.
Bantuan pun banyak yang telah disalurkan di antaranya demplot ke 366 desa dan kampung sasaran dengan nominal masing-masing Rp100 juta serta rumah inovasi teknologi desa (RITD) di 50 BUMDesa senilai Rp20 miliar.
Kemudian, juga investment fund di 18 BUMDesa dengan masing-masing bantuan Rp350 juta sekaligus pelatihan-pelatihan sesuai kesepakatan bersama Pemerintah RI dan IFAD. (end/ant)