00941396
IQPlus, (10/1) - Pengamat BUMN Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto menilai likuidasi atau pembubaran perusahaan BUMN di masa depan kemungkinan akan dilakukan sesuai kebutuhan yang ada.
Menurut Toto, pemerintah menargetkan hanya ada sekitar 40-45 BUMN hingga tahun 2024. Hingga saat ini, sebagian BUMN telah berubah status menjadi anak BUMN karena restrukturisasi seperti pembentukan holding BUMN, proses merger dan lainnya.
"Sehingga sebetulnya jumlah BUMN sudah berkurang. Jadi apakah masih akan ada BUMN yang dilikuidasi? Menurut saya tergantung kebutuhan di masa depan. Mungkin Indonesia akan punya lebih sedikit BUMN di masa depan, namun lebih kompetitif dan berdaya saing," katanya di Jakarta, Rabu.
Toto menilai posisi ideal BUMN adalah perusahaan dengan produk atau jasa yang kompetitif dan dibutuhkan publik, sekaligus sehat secara finansial.
Sebaliknya, BUMN dengan produk dan jasa yang tidak kompetitif dan tingkat kesehatan finansial yang buruk tentu akan membebani negara.
BUMN yang memiliki kinerja keuangan buruk akan diserahkan kepada holding Danareksa atau PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) untuk ditangani dan dilakukan restrukturisasi.
"Apa yang dikerjakan PPA saat ini adalah memperbaiki kinerja BUMN sakit tersebut. Apabila sudah berubah menuju kinerja yang lebih baik, maka opsinya tinggal apakah BUMN tersebut akan di divestasi atau dipertahankan," katanya. (end/ant)