RUMAH TANGGA JEPANG TERUS PANGKAS PENGELUARAN

  • Info Pasar & Berita
  • 07 Agt 2026

21829348

IQPlus, (7/8) - Pengeluaran rumah tangga Jepang secara tak terduga turun selama tujuh bulan berturut-turut meskipun upah riil terus meningkat, yang mencerminkan dampak inflasi berkepanjangan terhadap sentimen konsumen.

Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi melaporkan pada hari Jumat (7 Agustus) bahwa pengeluaran rumah tangga yang disesuaikan dengan inflasi turun 3,3 persen pada bulan Juni dibandingkan tahun sebelumnya. Para ekonom sebelumnya memperkirakan kenaikan sebesar 0,9 persen. Dibandingkan dengan bulan Mei, pengeluaran turun 6,4 persen berdasarkan penyesuaian musiman.

Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya pengeluaran untuk makanan, utilitas, transportasi dan komunikasi, serta pakaian. Di sisi lain, pengeluaran untuk pendidikan dan pemeliharaan rumah mengalami peningkatan.

Penurunan konsumsi mengaburkan prospek pertumbuhan yang didorong oleh permintaan domestik, meskipun subsidi pemerintah telah menahan biaya utilitas dan upah yang disesuaikan dengan inflasi terus meningkat setiap bulannya tahun ini. Kendati keyakinan konsumen sempat naik pada bulan Juni, indeks tersebut masih jauh di bawah rata-rata 10 tahun dan 20 tahun.

Pemerintah dijadwalkan untuk merilis data awal Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal kedua pada tanggal 17 Agustus.

Pekan lalu, Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda menegaskan pandangannya mengenai adanya risiko kenaikan yang lebih besar terhadap prospek harga. Ia juga menyatakan bahwa kejutan kenaikan harga akan membawa dampak yang lebih berat, mengingat tren inflasi kini semakin mendekati target 2 persen yang ditetapkan bank sentral tersebut lebih dari 13 tahun yang lalu.

Perdana Menteri Sanae Takaichi telah meluncurkan berbagai subsidi untuk meredam dampak inflasi, termasuk bantuan untuk menurunkan biaya utilitas dan membatasi harga bahan bakar minyak.

Perdana Menteri juga akan memangkas pajak penjualan atas bahan makanan dari 8 persen saat ini menjadi 1 persen guna lebih meringankan beban rumah tangga akibat inflasi. Penurunan ini diperkirakan akan dimulai pada April 2027 dan berlaku selama dua tahun sebelum tarif pajak kembali ke tingkat semula.

Perusahaan-perusahaan besar makanan dan minuman di Jepang telah menaikkan harga produk mereka di tengah meningkatnya biaya input akibat pelemahan nilai tukar yen dan kekurangan tenaga kerja. Teikoku Databank melaporkan bahwa perusahaan-perusahaan berencana menaikkan harga untuk 2.566 produk pada bulan Juli, angka yang meningkat hampir 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Upah riil telah meningkat setiap bulan sepanjang tahun ini, dengan kenaikan sebesar 1,6 persen pada bulan Juni. Takaichi menyebut upah riil dan penurunan inflasi konsumen sebagai tanda bahwa langkah-langkah pemerintah untuk meringankan beban harga telah membuahkan hasil. (end/Bloomberg)

Kembali ke Blog