SUPER BANK CATAT LABA BERSIH Rp299,89 MILIAR HINGGA SEPTEMBER 2026

  • Info Pasar & Berita
  • 29 Okt 2026

30130210

IQPlus, (29/10) - PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) mencatat laba bersih Rp299,89 miliar pada sembilan bulan pertama 2026, naik sekitar 399 persen dari Rp60,13 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan laba ditopang ekspansi kredit yang agresif, sementara total aset bank digital ini menembus Rp27,50 triliun. Angka tersebut berasal dari laporan keuangan yang belum diaudit.

Pendapatan bunga naik 56,8 persen menjadi Rp2,35 triliun dari Rp1,50 triliun. Beban bunga ikut membengkak 97,4 persen menjadi Rp790,01 miliar dari Rp400,20 miliar, seiring melonjaknya dana nasabah. Meski begitu, pendapatan bunga bersih tetap naik 42 persen menjadi Rp1,56 triliun dari Rp1,10 triliun.

Pendapatan operasional lainnya bertambah menjadi Rp85,77 miliar dari Rp20,14 miliar. Pendapatan provisi dan komisi naik lebih dari enam kali lipat menjadi Rp64,01 miliar dari Rp10,35 miliar, sedangkan keuntungan penjualan efek untuk tujuan investasi naik menjadi Rp21,75 miliar dari Rp9,92 miliar. Jika pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional lainnya digabung, total pendapatan operasional bank naik sekitar 47 persen menjadi Rp1,64 triliun.

Total beban operasional naik 21,4 persen menjadi Rp1,26 triliun dari Rp1,04 triliun, atau jauh lebih lambat daripada pendapatan. Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan naik 51,1 persen menjadi Rp364,91 miliar. Beban umum dan administrasi naik 8,5 persen menjadi Rp516,75 miliar, dan beban tenaga kerja naik 18,7 persen menjadi Rp377,62 miliar.

Hasilnya, laba sebelum pajak melonjak menjadi Rp385,06 miliar dari Rp80,93 miliar. Setelah beban pajak Rp85,17 miliar, laba bersih per saham dasar dan dilusian tercatat Rp8,8, dibanding Rp3,4 tahun lalu. Total laba komprehensif naik 62,1 persen menjadi Rp258,15 miliar, karena penurunan cadangan nilai wajar efek sebesar Rp41,74 miliar menekan penghasilan komprehensif lain.

Dari sisi neraca, total aset per 30 September 2026 mencapai Rp27,50 triliun, naik 29,2 persen atau Rp6,22 triliun dari Rp21,28 triliun pada akhir 2025. Penyaluran kredit menjadi motor utama. Total kredit yang diberikan naik 43,4 persen menjadi Rp13,79 triliun, dan setelah cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp492,16 miliar, kredit bersih mencapai Rp13,30 triliun dari Rp9,20 triliun. Portofolio efek bersih naik 36,5 persen menjadi Rp10,72 triliun.

Posisi likuid bank bergeser. Giro pada Bank Indonesia melonjak menjadi Rp1,16 triliun dari Rp389,30 miliar, sedangkan penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain turun menjadi Rp750,21 miliar dari Rp1,81 triliun. Efek yang dibeli dengan janji dijual kembali (reverse repo) menyusut menjadi Rp50,14 miliar dari Rp420,35 miliar. Aset takberwujud naik menjadi Rp546,23 miliar dari Rp432,99 miliar, sedangkan aset pajak tangguhan turun menjadi Rp60,73 miliar dari Rp134,13 miliar.

Di sisi pendanaan, simpanan nasabah naik 48,8 persen menjadi Rp17,60 triliun dari Rp11,83 triliun. Total liabilitas naik 45,4 persen menjadi Rp19,08 triliun. Ekuitas naik 3,2 persen menjadi Rp8,42 triliun, dengan defisit saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya menyempit menjadi Rp546,24 miliar dari Rp846,13 miliar. (end)

Kembali ke Blog