20140628
IQPlus, (21/7) - Tiongkok mengonfirmasi bahwa para pemimpin tinggi Uni Eropa akan berkunjung pada hari Kamis untuk menghadiri pertemuan puncak, karena kedua mitra dagang utama tersebut berupaya meredakan serangkaian sengketa perdagangan.
"Sesuai kesepakatan antara Tiongkok dan Uni Eropa, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen akan mengunjungi Tiongkok pada 24 Juli," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Beijing pada hari Senin.
"Presiden Xi Jinping akan bertemu dengan mereka. Perdana Menteri Dewan Negara Li Qiang dan kedua pemimpin Uni Eropa akan bersama-sama memimpin KTT Tiongkok-Uni Eropa ke-25," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri.
KTT ini akan menandai peringatan 50 tahun terjalinnya hubungan diplomatik antara Beijing dan Brussels.
Namun, hal ini terjadi setelah kedua belah pihak saling mengkritik atas apa yang masing-masing anggap sebagai pelanggaran prinsip perdagangan yang adil.
KTT ini "merupakan kesempatan untuk berinteraksi dengan Tiongkok di tingkat tertinggi dan melakukan diskusi yang jujur dan konstruktif mengenai isu-isu yang penting bagi kita berdua", ujar Costa dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat.
"Kami menginginkan dialog, keterlibatan nyata, dan kemajuan konkret. Kami menginginkan hubungan yang adil dan seimbang yang menguntungkan kedua belah pihak," ujarnya.
Von der Leyen mengatakan bulan ini bahwa Uni Eropa akan berupaya menyeimbangkan kembali hubungan ekonomi dengan Beijing dengan menuntut agar Beijing mempermudah akses pasar bagi perusahaan-perusahaan Eropa dan melonggarkan kontrol ekspor logam tanah jarang.
Kementerian Luar Negeri Beijing menanggapi dengan mendesak blok tersebut untuk "menangani perbedaan dan friksi dengan tepat" dan "membangun pemahaman yang lebih objektif dan rasional tentang Tiongkok".
Perang di Ukraina juga menjadi sumber perdebatan, dengan Uni Eropa berpandangan bahwa Tiongkok secara diam-diam mendukung invasi Rusia.sebuah tuduhan yang dibantah Beijing.
Pekan lalu, Brussels mengumumkan paket sanksi baru yang bertujuan untuk menghambat pendapatan minyak, sektor perbankan, dan kapabilitas militer Rusia, yang juga mencakup beberapa perusahaan dan lembaga keuangan Tiongkok.
Kementerian Perdagangan Beijing mengecam langkah tersebut pada hari Senin, dengan mengatakan bahwa langkah tersebut "telah memberikan dampak negatif yang serius terhadap hubungan ekonomi dan perdagangan Tiongkok-Uni Eropa".
Tiongkok dan Uni Eropa juga berselisih mengenai dukungan negara Beijing terhadap kendaraan listrik dan turbin angin, serta penggunaan data pribadi warga Eropa oleh TikTok, yang perusahaan induknya berasal dari Tiongkok. (end/AFP)