13034829
IQPlus, (11/5) - Chief Executive Officer (CEO) Tokocrypto Calvin Kizana menilai penurunan aktivitas transaksi kripto di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari tekanan global yang masih membayangi pasar aset berisiko.
"Kami melihat perlambatan transaksi kripto pada Maret 2026 lebih dipengaruhi oleh meningkatnya sentimen risk-off global. Investor saat ini cenderung lebih berhati-hati karena volatilitas masih tinggi, ketidakpastian geopolitik meningkat, dan arah kebijakan suku bunga The Fed masih menjadi perhatian utama pasar," ujar Calvin dalam keterangan di Jakarta, Senin.
Menurut Calvin, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan hilangnya minat investor terhadap aset kripto. Sebaliknya, banyak pelaku pasar yang masih berada di ekosistem kripto, namun memilih strategi yang lebih defensif.
"Investor tidak sepenuhnya keluar dari pasar kripto. Yang terjadi adalah pergeseran strategi. Sebagian investor mulai mengurangi eksposur pada aset yang lebih spekulatif dan memilih aset yang lebih likuid atau stabil, seperti Bitcoin, Ethereum, stablecoin, hingga aset berbasis emas. Ini lebih tepat dibaca sebagai fase wait and see," tambahnya.
Pernyataan itu disampaikan menanggapi pandangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menilai pasar aset kripto Indonesia tengah menghadapi tekanan.
Dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan April 2026 yang digelar pada Selasa (5/5), Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Adi Budiarso menyampaikan bahwa penurunan transaksi lebih disebabkan oleh proses normalisasi pasar setelah lonjakan harga pasca-halving Bitcoin pada 2024.
"Ini tentunya menjadi high base effect, bukan pelemahan fundamental, tapi ini sejalan dengan kondisi global, market cap kripto turun sekitar 45 persen dari all time high dari 4,2 triliun dolar AS pada Oktober 2025 menjadi sekitar 2,3 triliun dolar AS pada Maret 2026," kata Adi.
Data OJK menunjukkan transaksi kripto Indonesia pada Maret 2026 mencapai Rp28,04 triliun, terdiri atas Rp22,24 triliun di pasar spot dan Rp5,8 triliun di derivatif.
Nilai perdagangan aset kripto domestik pada Maret 2026 juga tercatat turun 4,7 persen secara bulanan dari Rp24,33 triliun pada Februari 2026 menjadi Rp22,24 triliun.
Sementara itu, total nilai transaksi perdagangan aset kripto sepanjang Januari hingga Maret 2026 mencapai Rp75,83 triliun.
OJK juga mencatat jumlah konsumen kripto Indonesia per Maret 2026 telah mencapai 21,37 juta akun, naik tipis dibandingkan bulan sebelumnya.
Hal itu menunjukkan kepercayaan terhadap industri aset digital masih terjaga meski pasar berada dalam fase konsolidasi.
"Masih ada kepercayaan dari masyarakat bahwa pasar kripto bisa memberikan dampak positif bagi portofolio investasi mereka. Kenaikan jumlah investor di tengah fase konsolidasi menunjukkan bahwa banyak masyarakat masih melihat kripto sebagai peluang untuk mendapatkan hasil positif dari aktivitas trading, yang pada akhirnya diharapkan dapat membantu meningkatkan kondisi ekonomi dan kualitas hidup mereka," ujar Calvin.
Ia menilai prospek perdagangan aset kripto pada kuartal II 2026 berpotensi membaik secara bertahap, terutama setelah Bitcoin kembali menembus level psikologis 80.000 dolar AS pada awal Mei 2026. (end/ant)