21235139
IQPlus, (31/7) - Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menekankan, peran sektor swasta dalam penyusunan kebijakan perdagangan sangatlah penting. Untuk itu, budaya kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta perlu ditumbuhkan.
Menurut Wamendag Jerry, kolaborasi yang terbangun dapat menciptakan lingkungan perdagangan yang inklusif. Hal ini diharapkan dapat memperkuat perekonomian nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Hal tersebut disampaikan Wamendag Jerry dalam diskusi panel bersama investor yang diselenggarakan Mandiri Sekuritas di Mandiri Sekuritas Office, Jakarta pada Selasa(30/7). Diskusi panel inimengusung tema "Indonesia's Trade Policies Update".
"Peran sektor swasta sangatlah penting dalam penyusunan kebijakan perdagangan. Pemerintahdan sektor swastaperlu menumbuhkan budaya kolaborasi untuk menciptakan lingkungan perdagangan yang inklusif.Saya mengimbau, kita mulai mempertimbangkan peran kita masing-masing dalam membentuk kebijakan perdagangan Indonesia. Investor diharapkan berinteraksi dengan para pembuat kebijakan, mengadvokasi praktik yang transparan, dan mendukung bisnis lokal," imbuh Wamendag Jerry dalam siaran pers Kemendag (30/7).
Hadir membuka acara Direktur Investasi Perbankan Mandiri Sekuritas Harold Tjiptadjaja. Turut mendampingi Wamendag JerryyaituTenaga Ahli Bidang Regulasi dan Perundingan Perdagangan Internasional Sioewardi Esiandy Selamet. Hadir sebagai narasumber Kepala Pengawas Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Grogol Petamburan Dony Arie fianto.
Pada kesempatan tersebut, Wamendag Jerry menyebutkan sejumlah hal yang mengindikasikan perekonomian Indonesia berada di kondisi yang baik. Indikator pertama, yaitu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2024 tumbuh sebesar 5,11 persen (YoY). Angka tersebut lebih tinggi dari negara-negara maju, seperti Korea Selatan3,3 persen,Amerika Serikat (AS) 2,9 persen, Jepang2,7 persen, dan Uni Eropa0,4 persen.
Kedua, inflasi Indonesia relatif terkendali dan lebih rendah dari beberapa negara lainnya. Inflasi tahunan Indonesia pada Juni 2024 senilai 2,51 persen (YoY) dan berada di bawah target pemerintah sebesar 3persen.
"Indikator ketiga adalah neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatatkan surplus pada Juni 2024 sebesar USD 2,39 miliar. Surplus ini terdiri atas surplus nonmigas sebesar USD 4,43 miliar dan defisit migas sebesar USD 2,04 miliar. Surplus tersebut sekaligus melanjutkan tren surplus selama 50 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," terang Wamendag. (end)