28228094
IQPlus, (9/10) - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) II Thomas Djiwandono mengatakan bahwa penggunaan berbagai teknologi, seperti big data, data analysis, blockchain, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan biometric dapat mengurangi waktu serta biaya dalam proses kepabeanan dan cukai.
"Teknologi di sektor bea cukai diharapkan dapat meminimalkan waktu dan biaya., Teknologi baru seperti big data, data analysis, blockchain, kecerdasan buatan, dan biometrik dapat menggantikan proses bisnis lama," ucap Thomas Djiwandono di Jakarta, Selasa.
Dalam 4th World Customs Organization Regional Training Center (WCO RTC) Indonesia International Conference 2024, ia mengatakan bahwa pesatnya kemajuan teknologi saat ini mendorong berbagai otoritas bea cukai di seluruh dunia untuk memanfaatkan potensi tersebut secara optimal.
Meskipun begitu, ia menyoroti adanya tantangan dalam pemanfaatan teknologi tersebut, yakni munculnya tekno-nasionalisme yang dapat menimbulkan perbedaan ekosistem dan ketimpangan standar teknologi.
"Isu lain yang perlu diperhatikan adalah bangkitnya tekno-nasionalisme. Negara-negara yang menyadari pentingnya sektor teknologi secara strategis berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan, yang berujung pada perbedaan ekosistem dan standar teknologi," ujarnya.
Sementara itu Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa akuntabilitas dan transparansi atas kewenangan kekuasaan, termasuk dalam penggunaan anggaran negara, merupakan salah satu pilar demokrasi yang sehat.
"Salah satu yang menjadi pilar sehat demokrasi adalah adanya transparansi dan akuntabilitas dari power atau kewenangan kekuasaan yang kami kelola sebagai bendahara negara," kata Sri Mulyani Indrawati dalam Final Lomba Cerdas Cermat APBN 2024, di Jakarta, Selasa. (end/ant)