06033033
IQPlus, (1/3) - PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (BEI: ADMR) mengumumkan laporan keuangan konsolidasi untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2023 ke BEI / OJK.
Christian Ariano Rachmat, Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Adaro Minerals Indonesia Tbk dalam siaran pers (29/2) mengatakan "Kinerja keuangan maupun operasional kami pada tahun 2023 cukup memuaskan, dengan dukungan pertumbuhan produksi Lampunut yang memuaskan serta pengakuan pasar yang semakin solid terhadap produk Enviromet.
Kondisi harga batu bara metalurgi yang kondusif terus mendukung pencapaian ASP kami, dan disertai kenaikan volume dan disiplin biaya, juga meningkatkan profitabilitas. Selain itu, operasi logistik Grup Adaro yang terintegrasi memberikan kinerja dengan sangat baik dalam menghadapi tantangan di Sungai Barito yang ditimbulkan oleh kondisi cuaca akibat El Nino.
Akhirnya, visi kami di Kaltara semakin terealisasi, dengan kemajuan pada konstruksi smelter aluminium dan infrastruktur terkait sesuai yang diharapkan. Kami tetap berada di posisi untuk merampungkannya pada 4Q2025".
Pendapatan usaha, harga jual rata-rata dan produksi
Pendapatan usaha pada FY23 naik 20% menjadi $1,09 miliar, karena kenaikan volume penjualan sebesar 39% yang mengimbangi penurunan ASP sebesar 14% dari FY22. Setelah mengalami penurunan pada 2Q23 dan 3Q23, ASP naik kembali pada 4Q23, seiring kenaikan harga batu bara metalurgi global. Produk batu bara metalurgi ADMR yang berkualitas tinggi dijual ke berbagai produsen baja yang terdiversifikasi, di Jepang, China, India, Indonesia, dan Korea Selatan.
Volume produksi FY23 naik 52% menjadi 5,11 juta ton, berkat ketersediaan alat berat dan kinerja yang baik dari para kontraktor. ADMR mencatat pengupasan lapisan penutup 18,70 juta bcm, atau naik 125% dari FY22, sehingga nisbah kupas FY23 mencapai 3,66x.
Beban pokok pendapatan
Beban pokok pendapatan FY23 naik 35% menjadi $502,75 juta, terutama karena kenaikan volume produksi. Royalti kepada Pemerintah naik 4% menjadi $158,23 juta, biaya penambangan naik 150% menjadi $149 juta, biaya pemrosesan batu bara turun 52% menjadi $23,58 juta, sementara biaya pengangkutan dan penanganan naik 36% menjadi $116,59 juta.
Konsumsi bahan bakar FY23 naik 42% karena peningkatan aktivitas, sementara biaya bahan bakar per liter turun 5% y-o-y. Biaya kas batu bara per ton pada FY23 turun 10% karena peningkatan pada operasi maupun volume.
Beban usaha
Beban usaha pada FY23 turun 88% menjadi $8,84 juta karena perusahaan melakukan pembalikan cadangan untuk beban terkait kewajiban pembayaran kepada pemerintah dalam porsi yang signifikan dari FY22 untuk mematuhi peraturan pemerintah yang baru. Kenaikan volume penjualan meningkatkan biaya penjualan dan pemasaran FY23 sebesar 50% menjadi $13,76 juta. Biaya karyawan naik 131% menjadi $8,75 juta karena penambahan jumlah tenaga kerja perusahaan demi mendukung ekspansi.
EBITDA operasional dan laba inti
EBITDA operasional FY23 naik 17% menjadi $573,50 juta, dan margin EBITDA operasional periode ini mencapai 53%. Laba inti FY23 naik 23% menjadi $421,02 juta. Kenaikan volume penjualan pada periode ini berkontribusi terhadap pendapatan, sementara perusahaan mencatat penurunan signifikan pada beban usaha karena perubahan regulasi terkait beban / pembayaran kepada pemerintah.
Total aset
Total aset naik 32% menjadi $1,70 miliar per akhir FY23, terdiri dari aset lancar $884,55 juta dan aset non lancar $810,87 juta. Saldo kas pada akhir FY23 naik 15% menjadi $586,42 juta karena arus kas yang tinggi. Kas meliputi 35% total aset.
Aset tetap
Aset tetap per akhir FY23 naik 34% menjadi $550,00 juta terutama karena investasi pada smelter aluminium KAI dan proyek-proyek infrastruktur di MC. Aset tetap meliputi 32% total aset. Properti pertambangan Properti pertambangan per akhir FY23 turun 6% y-o-y menjadi $174,06 juta, atau sejalan dengan produksi.
Total liabilitas
Pada akhir FY23, total liabilitas turun 8% menjadi $657,37 juta. Liabilitas lancar naik 6% menjadi $209,75 juta akibat kenaikan utang usaha dan beban yang masih harus dibayar terkait beban untuk suplier dan kontraktor.
Per akhir FY23, liabilitas non lancar turun 14% menjadi $447,62 juta karena pinjaman dari pemegang saham turun 35% menjadi $316,9 juta, akibat pembayaran oleh perusahaan sejumlah $170,6 juta. Pinjaman bank, setelah dikurangi biaya pembiayaan pinjaman, per akhir FY23 tercatat sebesar $98,73 juta karena perusahaan mulai menarik pinjaman untuk KAI.
Ekuitas
Per akhir FY23, ekuitas naik 82% menjadi $1,04 miliar karena kenaikan laba menyebabkan laba ditahan naik lebih dari dua kali lipat menjadi $854,76 juta. (end)