05026153
IQPlus, (20/2) - PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) membukukan laba bersih tahun berjalan konsolidasian senilai Rp4 triliun pada 2025, atau tumbuh 14 persen year on year (yoy) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Chief Financial Officer (CFO) Danamon Theresia Adriana mengatakan pertumbuhan kinerja perseroan ditopang oleh peningkatan pendapatan operasional dan pengelolaan biaya yang lebih efisien.
"Pada aspek profitabilitas, Danamon mencatatkan laba bersih tahun berjalan konsolidasian setelah pajak dan kepentingan minoritas sebesar Rp4 triliun, tumbuh 14 persen (yoy) dibandingkan dengan tahun sebelumnya," ujar Theresia dalam Konferensi Pers Virtual Paparan Kinerja FY 2025 Danamon di Jakarta, Kamis.
Dari sisi laba operasional sebelum pencadangan atau PPOP konsolidasian, tercatat senilai Rp9,6 triliun atau tumbuh 4 persen (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencerminkan pertumbuhan pendapatan operasional solid.
Theresia menjelaskan kinerja perseroan merupakan laporan kinerja pasca penggabungan usaha antara Mandala Multifinance dan Adira pada Oktober 2025. Adapun, penggabungan tersebut turut mempengaruhi penyajian ulang laporan keuangan tahun 2024 sebagai periode pembanding.
Dari sisi intermediasi, perseroan mencatatkan total kredit dan trade finance konsolidasian sebesar Rp212,7 triliun per 31 Desember 2025, atau tumbuh 9 persen (yoy). Pertumbuhan kredit terjadi di seluruh lini bisnis, termasuk enterprise banking, financial institutions, consumer banking, serta pembiayaan melalui Adira Finance.
Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 16 persen (yoy) menjadi Rp176,9 triliun, yang ditopang oleh peningkatan simpanan giro dan tabungan (CASA) yang naik 18 persen (yoy) menjadi Rp75,2 triliun.
Selain pertumbuhan pendapatan, peningkatan laba bersih juga ditopang oleh perbaikan kualitas kredit. Biaya kredit atau cost of credit tercatat membaik sebesar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) berada di level 7,7 persen.
Lebih lanjut, kualitas aset perseroan menunjukkan perbaikan, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) yang turun menjadi 1,7 persen, atau lebih baik 20 basis poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, Rasio Loan at Risk (LAR) turut membaik menjadi 8,3 persen, atau turun 230 basis poin secara tahunan.
Kemudian, permodalan dan likuiditas perseroan tetap kuat, dengan rasio kecukupan modal atau KPMM sebesar 25,4 persen, rasio cakupan likuiditas (LCR) sebesar 158,9 persen, serta rasio pendanaan stabil bersih (NSFR) sebesar 117,9 persen. (end)