27640635
IQPlus, (3/10) - Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda mengatakan bank sentral Jepang harus waspada terhadap dampak dari pasar yang tidak stabil dan ketidakpastian global. Hal itu mempertajam fokus pada kebutuhan untuk memperkuat pemulihan ekonomi dan kehati-hatian dalam menaikkan suku bunga.
Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba mendesak BOJ untuk mempertahankan kebijakan moneter yang longgar, karena pemerintah berusaha untuk mengakhiri stagnasi ekonomi. Pemerintah mengatakan Ishiba dan Ueda akan berbicara pada Rabu waktu setempat, yang akan menjadi pertemuan pertama mereka sejak Ishiba resmi menjadi perdana menteri.
Dalam pidato yang disampaikan pada pertemuan industri sekuritas tahunan, Ueda menegaskan kembali pandangan BOJ bahwa ekonomi Jepang akan mempertahankan pemulihan yang moderat dan membantu inflasi yang mendasarinya menyatu menuju target bank sebesar 2 persen dalam beberapa tahun mendatang.
Namun, ia tidak mengulangi janji bank sentral, yang terakhir dibuat pada September, untuk terus menaikkan suku bunga jika inflasi bergerak sesuai dengan targetnya, dan sebaliknya memusatkan perhatian pada berbagai risiko.
"Ketidakpastian mengenai ekonomi dan harga Jepang tetap tinggi," kata Ueda, dalam pidatonya di pertemuan tahunan industri sekuritas, dikutip dari The Business Times, Kamis, 3 Oktober 2024.
"Prospek ekonomi luar negeri, termasuk AS, masih belum pasti, sementara pasar keuangan masih belum stabil. Untuk saat ini, kami akan mencermati perkembangan tersebut dengan kewaspadaan yang sangat tinggi," tambahnya.
BOJ mengakhiri suku bunga negatif pada Maret dan menaikkan biaya pinjaman jangka pendek menjadi 0,25 persen pada Juli dengan pandangan bahwa Jepang sedang membuat kemajuan menuju pencapaian inflasi 2 persen secara berkelanjutan. (end/ba)