BOS THE FED SEBUT SUKU BUNGA ACUAN BISA MULAI DIPANGKAS DI 2024

  • Info Pasar & Berita
  • 23 Feb 2024

05339834

IQPlus, (23/2) - Seorang pejabat senior Federal Reserve mengatakan bahwa bank sentral AS kemungkinan mulai memotong suku bunga acuan pada suatu saat di tahun ini. Namun demikian, dirinya memperingatkan terhadap potensi dampak inflasi dari konsumsi berlebihan.

"Jika perekonomian berkembang secara luas seperti yang diharapkan, mungkin akan tepat untuk mulai menarik kembali pembatasan kebijakan kami pada akhir tahun ini," kata Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson, dalam sebuah acara di Peterson Institute of International Economics (PIIE) di Washington, dikutip dari The Business Times, Jumat, 23 Februari 2024.

Orang nomor dua di bank sentral AS itu mengatakan ia masih memperkirakan pertumbuhan belanja dan produksi di AS akan melambat pada 2024. .Meski begitu, tanpa pemahaman yang jelas tentang mengapa belanja konsumen begitu tangguh, saya melihat berlanjutnya kekuatan belanja sebagai risiko kenaikan yang penting terhadap perkiraan saya,. katanya.

Rumah tangga AS terus melakukan pembelanjaan pada 2023, meskipun daya beli mereka menurun karena inflasi di satu sisi, dan kenaikan suku bunga di sisi lain.

Jefferson memperingatkan tentang dampak konsumsi yang bermotif sosial .atau mengikuti perkembangan keluarga Joneses, yang menurutnya dapat menyebabkan individu mengonsumsi lebih banyak daripada yang diperkirakan oleh model yang hanya mempertimbangkan kekayaan dan pendapatan rumah tangga.

Konsumsi yang berlebihan dapat memperlambat kemajuan signifikan yang dicapai The Fed dalam hal inflasi, meskipun terjadi peningkatan baru-baru ini. Salah satu ukuran inflasi harga yang dikenal sebagai indeks harga konsumen (CPI), yang digunakan untuk mengindeks dana pensiun, lebih tinggi dari perkiraan pada Januari, mencapai tingkat tahunan sebesar 3,1 persen.

"Pembacaan CPI yang mengecewakan ini menyoroti bahwa proses disinflasi kemungkinan besar akan mengalami hambatan," kata Jefferson.

Dirinya juga menyebutkan dua risiko lainnya yakni melemahnya pasar tenaga kerja dan prospek meningkatnya risiko geopolitik. .Meluasnya konflik di Timur Tengah dapat berdampak lebih besar pada harga komoditas, seperti minyak, dan pasar keuangan global,. pungkasnya. (end/ba)



Kembali ke Blog