33240590
IQPlus, (28/11) - Bank of Thailand (BOT) menyebutkan kredit bermasalah (NPL) bank-bank Thailand naik menjadi 2,97 persen dari total pinjaman yang beredar pada akhir September. Kondisi itu merupakan level tertinggi dalam hampir tiga tahun.
"Peningkatan tersebut, dari 2,84 persen pada akhir Juni, sebagian disebabkan oleh penurunan basis pinjaman dan NPL yang lebih tinggi dari pinjaman bisnis dan konsumen, tetapi bank-bank terus mengelola portofolio mereka dan memberikan dukungan kepada debitur," kata BOT, dikutip dari The Business Times, Kamis, 28 November 2024.
Ada kebutuhan untuk memantau kemampuan membayar utang dari bisnis-bisnis kecil dan rumah tangga dengan pemulihan pendapatan yang lebih lambat dan beban utang yang tinggi, serta bisnis-bisnis yang dilanda masalah struktural dan daya saing yang menurun, tambah BOT dalam sebuah pernyataan.
"Hal ini dapat menyebabkan peningkatan NPL secara bertahap tetapi tetap dapat dikelola dengan baik," kata BOT, seraya menambahkan bahwa sistem perbankan tetap tangguh.
Meningkatnya NPL di antara kelompok rentan menjadi perhatian, Asisten Gubernur BOT Suwannee Jatsadasak mengatakan dalam konferensi pers. Adapun Pemerintah Thailand telah mendesak bank untuk meningkatkan akses kredit di tengah pertumbuhan ekonomi yang lesu yang hanya tumbuh 1,9 persen tahun lalu, tertahan oleh tingginya tingkat utang rumah tangga.
Suwannee mengatakan rasio utang rumah tangga terhadap produk domestik bruto kemungkinan turun sedikit pada akhir kuartal ketiga, dari 89,6 persen pada akhir kuartal kedua. Rasio tersebut merupakan salah satu yang tertinggi di Asia. Peminjaman bank diperkirakan naik sedikit pada kuartal terakhir tahun 2024, tambahnya.
"Peminjaman bank turun 2 persen pada kuartal September dari tahun sebelumnya, penurunan terbesar sejak 2010, terutama karena pembayaran utang, terutama dari pemerintah dan perusahaan besar," pungkas BOT. (end/ba)