02226639
IQPlus, (23/1) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan harga nikel stabil di kisaran 19 ribu-20 ribu dolar AS per ton pada 2026 setelah pemangkasan produksi nikel dalam negeri.
"Mudah-mudahan di kisaran 19 ribu-20 ribu (dolar AS per ton)," ujar Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno ketika ditemui setelah Rapat Kerja (Raker) Komisi XII DPR di Kompleks Parlemen Jakarta, Kamis.
Kementerian ESDM memangkas produksi nikel menjadi sekitar 250 juta-260 juta ton pada 2026, turun dari target produksi dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2025 sebanyak 379 juta ton.
Terkait dengan perusahaan yang RKAB-nya belum disetujui, Tri mengingatkan bahwa para perusahaan penambang nikel masih memiliki persetujuan berproduksi hingga Maret 2026 untuk menggunakan kuota produksinya yang sebesar 25 persen.
"Jadi, sembari melengkapi persyaratan (agar RKAB disetujui) dan lain sebagainya, mereka kan ada persetujuan yang sampai Maret dan masih bisa digunakan," ujar Tri.
Langkah-langkah pemangkasan produksi nikel bertujuan untuk menjaga harga komoditas di level global.
Dari yang semula jatuh hingga di angka 14.125 dolar AS per ton pada 16 Desember 2025, kini naik hingga tembus 17 ribu dolar AS per ton, berdasarkan data London Metal Exchange (LME) per 22 Januari 2026.
Bahkan, harga nikel sempat mencapai 18.450 dolar AS per ton pada 7 Januari 2026.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga meminta kepada industri besar untuk membeli bijih nikel dari pengusaha tambang. (end/ant)