34548138
IQPlus, (11/12) - Tim auditor General Administration of Customs of the Peoples Republic of China (GACC) memberikan apresiasinya pada PT Esta Indonesia Tbk (NEST).
Dalam siaran pers (11/12) disebutkan Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan dan ekspor sarang burung walet (SBW), NEST dirasa memiliki komitmen tinggi pada inovasi maupun standar keamanan pangan (food safety). Hal itu diungkapkan Direktur Ekspor & Compliance NEST, Dian Rochayati Sri Utami dalam siaran pers kepada awak media, Senin (9/12).
Dian menjelaskan bahwa GACC adalah lembaga kepabeanan yang menjadi representasi penting dari Tiongkok, sebagai salah satu negara pengimpor SBW Tanah Air terbesar di dunia. Lembaga ini memiliki agenda tiga tahunan untuk melakukan evaluasi dan monitoring secara langsung (on site) pada perusahaan di negara pengekspor, dimana agenda di Indonesia tahun ini berlangsung pada 14 . 19 Oktober lalu. Sebanyak delapan perusahaan pun dipilih sebagai representasi dalam agenda kali ini dimana salah satunya adalah NEST.
Adapun tim auditor GACC yang datang ke Indonesia tahun ini terdiri dari lima personil dan diketuai Direktur Tingkat 1, Chen Yu. Empat personil lainnya ialah Kepala Divisi Satuan Administrasi Bawah Bidang, Zeng Yu, Wakil Kepala Divisi, Cai Shaoxin, Wakil Kepala Divisi, Wang Yichen, dan Ahli Senior, Li Dan. Kelima personil tersebut kemudian bekerja dalam dua tim untuk melakukan audit secara langsung di pabrik pengolahan SBW yang ada di Jawa Tengah, Jawa Timur, Tangerang, dan Jawa Barat.
Sebagaimana dijelaskan Dian, proses audit GACC pada dasarnya mencakup beberapa aspek seperti dokumen legalitas, inovasi dan penelitian, hingga manajemen produksi perusahaan.
NEST sendiri selama ini telah diakui oleh lembaga sertifikasi Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) PT SGS Indonesia, dan terdaftar sebagai pioner ekspor SBW ke Tingkok sejak November 2014 di The Certification and Accreditation Administration (CNCA) atau yang kemudian menjadi GACC. Selain itu, NEST juga memiliki registrasi Produk Hewan Dalam Negeri (PHD) dan Nomor Kontrol Veteriner (NKV) yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian, serta tercatat sebagai Eskportir Terdaftar di Kementerian Perdagangan, sekaligus memiliki sertifikat halal.
"Nah pada saat audit ke NEST, kami sampaikan performa NEST dari sejak disetujui oleh CNCA pada November 2014 yang kemudian kami menjadi perusahaan ekspor SBW resmi pertama kalinya ke Tiongkok pada 13 Januari 2015. Kami sampaikan juga peningkatan ekspornya, dari dulu yang kapasitasnya hanya sekitar 4,5 ton sekarang bisa mencapai 28,5 ton. Kemudian kami sampaikan bahwa selain ekspor ke Tiongkok kami juga dapat melakukan pengiriman ke beberapa negara lain seperti Amerika Serikat, Australia, Hong Kong, Singapura, dan Jepang," terang Dian.
Dalam hal penelitian, Dian menjelaskan bahwa NEST berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Karantina Indonesia (Barantin), dan importir SBW ternama asal Tiongkok yakni Xiamen Yan Palace. Kolaborasi ini dilakukan untuk mendalami berbagai macam manfaat, kandungan, maupun nutrisi SBW, selain juga dalam rangka memetakan SBW yang dihasilkan dari berbagai daerah di Indonesia. Menurut Dian kolaborasi ini cukup menarik perhatian auditor GACC, dimana mereka kemudian menitipkan satu penelitian terkait studi komparasi SBW yang dipanen dari gua, dengan SBW yang dihasilkan secara budidaya dari rumah burung. GACC meminta laporan hasil penelitian ini nantinya dikirim secara resmi melalui pemerintah Indonesia.
"Setelah memeriksa dokumen, mereka juga melakukan inspeksi ke lapangan. Auditor melihat secara langsung pabrik NEST, baik dari segi sanitasi, higienitas bahan baku, pencucian, cabut, pencetakan, sampai pengeringan. Kemudian untuk finishing produk mulai dari pemanasan sampai packing dan sebagainya. Mereka berkomentar bahwa pabriknya cukup bagus. Kondisi sanitasi dan higienitas juga bagus, kemudian karyawannya juga banyak. Bahkan mereka cukup kaget ternyata ada perusahaan walet yang karyawannya sangat banyak sekali. Mereka juga cukup berkesan karena perusahaannya bisa di-maintenance dengan baik, dilengkapi sistem yang terkomputerisasi dengan baik untuk tracebility-nya dalam sistem logistik dan produksi yang kemudian diintegrasikan melalui label di setiap produk SBW yang diekspor," imbuhnya.
Pada intinya, lanjut Dian, auditor GACC sangat terkesan melihat pabrik SBW di Indonesia yang kini sudah sangat jauh berkembang. Secara khusus mereka juga memberikan kredit pada dua perusahaan dalam hal penggunaan teknologi terbaru, yakni pada NEST yang juga memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) di rumah burung untuk memantau populasi dan sarang walet, kemudian pada PT Waleta Asia Jaya yang turut menggunakan AI dalam proses pemilahan (grading) bahan baku.
"Kami mengapresiasi pelaku usaha SBW Indonesia yang telah menerapkan teknologi baru dengan pemanfaatan AI dalam tahap pemilahan bahan baku dan perhitungan populasi burung walet yang nantinya akan berpengaruh terhadap jumlah produksi dan kualitas SBW. GACC berharap hal ini dapat diikuti oleh unit usaha SBW Indonesia lainnya guna meningkatkan kualitas manajemen dan produk," kata Chen Yu.
Menurut Dian, hasil auditini nantinya akan disampaikan Chen Yu dan tim ke GACC Pusat di Beijing, Tiongkok. Setelahnya mereka akan mengeluarkan laporan hasil kunjungan yang kemudian dikirimkan secara resmi ke pemerintah Indonesia. Sebelum pulang, Chen Yu dan tim juga sempat memberikan apresiasi kepada Barantin karena telah melakukan tugasnya sebagai otoritas dengan sangat baik terkait ekspor SBW ke Tiongkok. (end)