12728823
IQPlus, (8/5) - Emiten penyedia infrastruktur telekomunikasi, PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST), secara resmi melaporkan perubahan struktur jaminan atas fasilitas kredit senilai Rp2 triliun yang melibatkan sejumlah perusahaan dalam grup afiliasinya. Langkah ini diambil guna mengoptimalkan skema pembiayaan yang lebih baik bagi perusahaan.
Dalam keterbukaan informasi tertanggal 7 Mei 2026, Sekretaris Perusahaan IBST, Suciratin, menjelaskan bahwa pihaknya telah menandatangani Perubahan Ke-2 atas Perjanjian Kredit tertanggal 9 Desember 2024. Transaksi ini melibatkan PT Bank CIMB Niaga Tbk sebagai pemberi pinjaman, serta empat perusahaan sebagai peminjam (para peminjam) yakni IBST sendiri, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), PT Iforte Solusi Infotek (Iforte), dan PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR).
"Perubahan ini dilakukan sehubungan dengan perubahan struktur jaminan dari yang semula tanggung renteng menjadi jaminan perusahaan (corporate guarantee)," tulis manajemen dalam laporannya. Jaminan perusahaan tersebut diberikan oleh Protelindo dan Iforte berdasarkan perjanjian penanggungan perusahaan tertanggal 7 Mei 2026.
Pihak manajemen menegaskan bahwa selain perubahan struktur jaminan, tidak terdapat perubahan material lainnya pada syarat dan ketentuan dalam perjanjian fasilitas tersebut.
Transaksi ini dikategorikan sebagai transaksi material karena nilai fasilitas pembiayaannya mencapai lebih dari 50% dari ekuitas Perseroan berdasarkan laporan keuangan auditan per 31 Desember 2025.
Meskipun melibatkan pihak afiliasi-di mana Iforte merupakan pemegang 99,95% saham IBST dan Protelindo memiliki 99,99% saham Iforte-perusahaan memastikan bahwa transaksi ini bukan merupakan transaksi benturan kepentingan.
"Pelaksanaan transaksi tersebut tidak memiliki dampak material negatif yang merugikan terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha Perseroan," tambah Suciratin dalam pernyataan resminya.
Langkah restrukturisasi jaminan ini diharapkan dapat memberikan fleksibilitas finansial yang lebih kuat bagi grup perusahaan dalam menjalankan operasional penyediaan menara telekomunikasi di Indonesia. (end)