03627707
IQPlus, (6/2) - Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti memandang pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2023 belum maksimal sebab masih mengandalkan konsumsi rumah tangga sebagai sumber utama pertumbuhan dari sisi pengeluaran.
"Menurut saya, pertumbuhan 5 persen ini belum maksimal. Kenapa? Karena mesin pertumbuhannya baru konsumsi rumah tangga. Sementara investasi, ekspor, itu belum. Government spending juga masih kurang," kata Esther di Jakarta, Senin.
Pada Senin, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,05 persen secara kumulatif sepanjang 2023. Konsumsi rumah tangga tumbuh menjadi 4,82 persen pada 2023, dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 2,55 persen.
Esther memandang bahwa konsumsi rumah tangga tidak dapat selamanya diandalkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Hal itu sudah terbukti pada saat pandemi COVID-19 di mana Indonesia mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi.
Esther Sri Astuti juga menilai program bantuan sosial (bansos) tidak efektif menurunkan angka kemiskinan secara signifikan.
"Bansos ini menurut saya tidak efektif. Kenapa? Selama (hampir) 12 tahun, angka kemiskinan hanya turun (sekitar) 2 persen," kata Esther saat diskusi publik di Jakarta, Senin. (end/ant)