23331053
IQPlus, (21/8) - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan rendahnya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2023 yang sebesar 1,61 persen menjadi bekal payung ekonomi untuk tahun 2024.
"Istilah APBN 2023 telah menyediakan payung sebelum hujan itu tepat sekali," kata Sri Mulyani saat Rapat Kerja dengan Badan Anggaran DPR di Jakarta, Selasa.
Pasalnya, terdapat banyak gejolak ekonomi yang terjadi di 2024, seperti kenaikan suku bunga The Fed di kisaran 5,25-5,5 persen.
Pada saat yang sama, berbagai harga komoditas mengalami penurunan, termasuk batu bara dan minyak sawit mentah (CPO).
Untuk itu, defisit APBN sebesar Rp337,3 triliun atau 1,61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) memberikan ruang yang memadai untuk membuat APBN menjadi bantalan gejolak (shock absorber) pada tahun anggaran berikutnya.
"Waktu hujan, terjadi drop harga komoditas, ini menyebabkan guncangan. Namun, kita telah menyediakan payung di 2023," tambah dia.
Realisasi defisit itu lebih rendah dari target APBN 2023 yang sebesar 2,27 persen.
Secara rinci, realisasi pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.774,3 triliun, tumbuh 5,3 persen dari realisasi tahun anggaran 2022 yang sebesar Rp2.635,8 triliun. Realisasi itu setara dengan 105,2 persen dari target Perpres Nomor 75 Tahun 2023 yang sebesar Rp2.637,2 triliun.
Sementara itu, realisasi belanja negara tercatat sebesar Rp3.121,2 triliun atau 100,13 persen dari pagu 2023. Realisasi ini meningkat Rp24,9 triliun atau 0,81 persen dari realisasi 2022.
"Ini menunjukkan pada saat kita menghadapi penerimaan yang tinggi, kita tetap menjaga momentum belanja tanpa menimbulkan kenaikan yang cukup besar," ujarnya. (end/ant)