00545080
IQPlus, (6/1) - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 defisit sebesar 2,29 persen, sesuai dengan target yang ditetapkan.
Secara nilai, defisit tercatat sebesar Rp507,8 triliun dari target awal Rp522,8 triliun.
"Defisit kita 2,29 persen," kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN 2024, di Jakarta, Senin.
Pendapatan negara secara umum menunjukkan kinerja positif, dengan realisasi sebesar Rp2.842,5 triliun atau tumbuh 2,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Nilai itu lebih tinggi dari target APBN 2024 sebesar Rp2.802,3 triliun.
Dari segi penerimaan pajak, realisasi sementara tercatat berada di bawah target, yakni sebesar Rp1.932,4 triliun dari sasaran Rp1.988,9 triliun. Catatan ini mengindikasikan tekanan terhadap kinerja penerimaan pajak.
Namun, realisasi itu lebih tinggi dari proyeksi yang disampaikan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada laporan semester lalu, yang diprediksi sebesar Rp1.921,9 triliun.
"Meski penerimaan pajak mengalami tekanan, kita bisa pulihkan kembali. Tidak mencapai target awal, tapi lebih baik dari laporan semester kita," ujar Menkeu.
Dari segi pertumbuhan, penerimaan pajak masih tumbuh sebesar 3,5 persen dari realisasi 2023. Menkeu menyebut pertumbuhan ini patut disyukuri menimbang tekanan harga komoditas yang terjadi pada 2024.
Kinerja bea dan cukai menunjukkan tren yang serupa dengan penerimaan pajak. Realisasi sementara penerimaan bea dan cukai tercatat di bawah target, yakni sebesar Rp300,2 triliun dari target Rp321 triliun. Namun, lebih tinggi dari proyeksi Rp296,5 triliun.
"Bea cukai tumbuh lebih tinggi dari tahun lalu, sebesar 4,9 persen," ujar Sri Mulyani. (end/ant)