03032208
IQPlus, (31/1) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menilai, penggunaan energi hijau atau energi baru dan terbarukan lebih cocok untuk kebutuhan industri daripada untuk konsumsi rumah tangga.
"Dalam pandangan saya, energi hijau ini cocok untuk membiayai industri-industri yang melahirkan produk, yang kemudian harganya bisa kompetitif di pasar global," ucap Bahlil dalam acara bertajuk "Mengakselerasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia: Tantangan dan Peluang di Era Baru" di Jakarta, Kamis.
Menurut Bahlil, energi hijau membutuhkan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan energi fosil.
Apabila energi hijau dipakai hanya semata-mata untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga, Bahlil meyakini akan terjadi pembengkakan biaya untuk memproduksi energi tersebut.
"Akan terjadi over-cost, bisa jadi membebani rakyat atau membebani subsidi pemerintah," ucap Bahlil.
Bahlil Lahadalia juga menilai Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara yang membuka kesempatan bagi perguruan tinggi untuk mengelola tambang sebagai niat baik.
"Saya pikir (RUU Minerba) sebuah niat yang baik, kok. Dalam rangka mengembalikan roh daripada Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33," ujar Bahlil.
Pasal 33 ayat (3) menyatakan bahwa bumi, air dan kekayaan alam dikuasai negara dan digunakan untuk kesejahteraan rakyat.
Pasal tersebut berulang kali ditegaskan menjadi landasan dari pemberian kewenangan bagi perguruan tinggi dan usaha kecil dan menengah (UKM) untuk turut serta dalam mengelola lahan tambang.(end/ant)