26354994
IQPlus, (20/9) - PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai, dunia saat ini tengah memasuki siklus pemangkasan suku bunga yang memiliki dampak positif terhadap instrumen obligasi.
Diketahui, Bank Sentral AS atau The Fed telah memangkas suku bunganya sebesar 50 bps menjadi 4,75-5,00 persen, sementara Bank Indonesia (BI) menurunkan BI-Rate 5 basis poin atau 0,25 persen ke level 6 persen.
Jika bercermin pada empat siklus pemangkasan suku bunga BI sebelumnya yang terjadi di 2011, 2016, 2019, dan 2020 secara rata-rata indeks BINDO mencatat kinerja positif 18 persen.
"Turunnya suku bunga cenderung berdampak langsung terhadap pasar obligasi karena hubungan yang erat antara suku bunga, imbal hasil obligasi, dan harga obligasi, karena instrumen obligasi diminati ketika suku bunga turun karena investor dapat .mengunci. imbal hasil di level tinggi," kata Portfolio Manager, Fixed Income MAMI Laras Febriany dalam keterangannya, di Jakarta, Jumat.
Menurut Laras, pada dasarnya Indonesia memiliki profil ekonomi yang menarik di antara negara berkembang lain, didukung oleh tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi yang stabil, inflasi rendah, tingkat utang negara rendah, kondisi politik stabil, dan tingkat imbal hasil obligasi yang tinggi.
Hal itu yang menjadikan daya tarik investor asing untuk masuk ke pasar obligasi Indonesia.
Langka bagi suatu negara berkembang memiliki profil yang cukup baik secara menyeluruh, karena biasanya ada saja masalah pada salah satu faktor tersebut.
"Dengan profil yang menarik itu, faktor kunci bagi investor adalah pada stabilitas nilai tukar rupiah, karena pelemahan nilai tukar akan menggerus potensi imbal hasil bagi investor asing, membuat obligasi Indonesia kurang menarik, dan pada akhirnya dapat membuat arus dana asing berbalik. Dimulainya siklus pemangkasan suku bunga The Fed diperkirakan dapat menjadi iklim yang suportif bagi Rupiah dan bisa menarik arus dana asing masuk ke pasar obligasi Indonesia lebih lanjut," kata Laras pula. (end/ant)