05230698
IQPlus, (22/2) - Pemerintah Jepang menurunkan pandangannya terhadap perekonomian pada Februari untuk pertama kalinya dalam tiga bulan karena lesunya belanja konsumen. Hal ini menunjukkan adanya jalan yang sulit untuk keluar dari resesi di tengah lambatnya pemulihan upah dan lemahnya output industri.
Pemerintah juga memangkas penilaiannya terhadap belanja konsumen untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dengan mengatakan bahwa kenaikan tampaknya terhenti. Kondisi itu menggarisbawahi tantangan bagi Bank of Japan (BoJ) yang berupaya untuk keluar dari kebijakan ultra-longgarnya pada tahun ini.
Penilaian suram ini muncul setelah data pekan lalu menunjukkan perekonomian Jepang secara tak terduga tergelincir ke dalam resesi pada kuartal keempat karena lemahnya permintaan domestik. Sehingga kehilangan posisinya sebagai negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia karena kalah dari Jerman.
"Perekonomian mengalami pemulihan secara moderat, meskipun akhir-akhir ini tampaknya terhenti," kata Kantor Kabinet Jepang dalam laporannya, dikutip dari The Business Times, Kamis, 22 Februari 2024.
Ini merupakan penurunan peringkat pertama sejak November 2023. Penilaian yang lebih rendah terhadap belanja konsumen disebabkan oleh jeda dalam pemulihan belanja jasa dan penurunan belanja barang-barang tidak tahan lama karena faktor-faktor seperti kenaikan harga.
Upah riil negara tersebut turun selama 21 bulan berturut-turut pada Desember karena inflasi melebihi pemulihan upah dan terus membebani pengeluaran rumah tangga.
Penangguhan beberapa produksi dan pengiriman mobil mendorong pemerintah untuk mengurangi pandangannya terhadap output industri untuk pertama kalinya sejak Maret 2023. Meskipun output industri diperkirakan akan meningkat, namun aktivitas produksi turun baru-baru ini. (end/ba)