31649028
IQPlus, (12/11) - Asosiasi Gula Indonesia (AGI) menilai penggunaan transaksi pembayaran secara digital membantu para pelaku usaha menjalankan bisnisnya dengan lebih transparan karena ada catatan rekam jejak digitalnya.
Tenaga Ahli AGI Yadi Yusriadi mengatakan di kalangan pengusaha gula, transaksi melalui digital kini mulai diterapkan.
Menurutnya, transaksi digital merupakan tuntutan zaman. Apalagi kini masyarakat cenderung lebih nyaman menggunakan cashless atau sistem pembayaran nontunai.
"Hal ini sudah mulai dilakukan dalam industri gula pada penjualan gula maupun hasil tebu petani yang digiling ke pabrik gula. Semua proses transaksi digital," ujar Yadi dalam keterangan di Jakarta, Selasa.
Yadi mencontohkan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang memungkinkan pembayaran digital yang lebih cepat dan efisien bagi banyak merchant di seluruh Indonesia.
"Penggunaan QRIS umumnya untuk transaksi langsung secara fisik untuk pembayaran," kata Yadi.
Di industri gula, lanjut Yadi, pada proses produksi terdapat barcode yang dibawa sopir truk untuk dapat masuk dalam proses giling. Demikian juga, truk yang mengisi BBM solar bersubsidi pun menggunakan QRIS untuk transaksinya.
"Dampaknya, jejak digital terekam, bisnis lebih transparan, lebih mudah, dan meminimalis penyimpangan," ujar Yadi.
Yadi melihat penggunaan transaksi digital, termasuk QRIS, kini menjadi sesuatu yang berkembang pesat. Namun di sisi lain, perlu ditingkatkan sosialisasi dan keamanannya bagi para pengguna.
"Saat ini teknologi digital sudah tersedia, tinggal sosialisasi dan keamanan sistem maupun user yang perlu dijaga. Insya Allah, akan berkembang pesat," kata Yadi. (end/ant)