29157210
IQPlus, (18/10) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bali menggenjot skema close loop atau model kemitraan agribisnis dari hulu hingga hilir, guna mendukung sektor pertanian agar sejalan dengan pertumbuhan sektor pariwisata.
"Dengan skema itu petani tidak sendiri tapi sebagai satu kelompok, dilindungi asuransi pertanian hingga ada offtaker (pembeli hasil pertanian)," kata Kepala OJK Bali Kristrianti Puji Rahayu di Denpasar, Jumat.
Ia mengharapkan BUMD atau perusahaan umum daerah (perumda) di Bali diarahkan menjadi offtaker yang menyerap hasil pertanian sehingga memberikan kepastian kepada para petani.
OJK, kata dia, melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Provinsi Bali sudah memiliki beberapa percontohan close loop di antaranya pertanian kakao di Kabupaten Jembrana yang di antaranya melibatkan kelompok tani, perbankan, koperasi.
Begitu juga, skema serupa juga diterapkan di Kabupaten Tabanan untuk komoditas padi dengan varietas mentik susu.
Kehadiran kemitraan hulu hilir termasuk adanya offtaker itu juga diharapkan menumbuhkan minat lembaga jasa keuangan untuk menyalurkan pembiayaan khususnya kepada kelompok petani, termasuk melalui skema Kredit Pembiayaan Sektor Prioritas (KPSP).
Harapannya, sektor pertanian dapat berkembang dan menjadi tumpuan selain sektor pariwisata khususnya di sektor akomodasi, makan dan minum yang selama mendominasi penyerapan realisasi kredit.
Langkah tersebut tercermin dari perbaikan indeks nilai tukar petani (NTP) di Bali pada September 2024 mencapai 98,36 atau naik 0,06 persen dibandingkan kondisi bulan sebelumnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali. (end/ant)